Kamis, 14 Mei 2009

TOKOH ANAK (DUNIYA) DALAM NOVEL DUNIA DUNIYA KARYA DEWI SARTIKA (Sebuah Pendekatan Psikologis)

TOKOH ANAK (DUNIYA)
DALAM NOVEL DUNIA DUNIYA
KARYA DEWI SARTIKA
(Sebuah Pendekatan Psikologis)











Oleh
Titin Yulianti Prawesti





PROGRAM STUDI PENDIDIKAN BAHASA DAN SASTRA INDONESIA
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS AHMAD DAHLAN
YOGYAKARTA
Februari 2009

ABSTRAK


Penelitian ini berjudul “Tokoh Anak (Duniya) dalam Novel Dunia Duniya Karya Dewi Sartika (Sebuah Pendekatan Psikologis)”. Novel Dunia Duniya sebagai salah satu hasil karya sastra dipilih untuk diteliti dengan tujuan mendeskripsikan kepribadian dan sikap tokoh anak dalam menjalani permasalahan hidup, faktor yang mempengaruhi kepribadian tokoh anak dalam novel Dunia Duniya ditinjau dari teori psikologi, serta konflik yang dialami tokoh anak dalam novel Dunia Duniya karya Dewi Sartika. Novel ini diteliti dengan pendekatan psikologis, yaitu pendekatan penelaahan sastra yang menekankan pada segi-segi kejiwaan, terhadap tipe-tipe dan hukum psikologi yang dapat diterapkan pada karya sastra.
Subjek penelitian ini berupa novel Dunia Duniya karya Dewi Sartika, sedangkan objek penelitiannya berupa tipe kepribadian, faktor pembentuk kepribadian, dan konflik yang dialami tokoh anak bernama Duniya. Permasalahan yang diteliti dibatasi pada kepribadian dan sikap tokoh anak dalam menjalani permasalahan hidup, faktor yang mempengaruhi kepribadian tokoh anak dalam novel Dunia Duniya ditinjau dari teori psikologi, serta konflik yang dialami tokoh anak dalam novel Dunia Duniya karya Dewi Sartika. Instrumen penelitian yang digunakan adalah teks, peneliti, dan kartu data sebagai alat pencatat semua data yang diperoleh melalui observasi. Pengumpulan data dilakukan dengan observasi, teknik kajian pustaka, dan baca catat. Analisis data penelitian dengan metode deskriptif kualitatif.
Kesimpulan dari hasil penelitian ini sebagai berikut. (1) Kepribadian tokoh anak (Duniya) dalam novel Dunia Duniya secara psikologis dapat digolongkan ke dalam tipe kepribadian ekstroverts. (2) Faktor yang mempengaruhi kepribadian tokoh anak dalam novel Dunia Duniya ditinjau dari teori psikologi berasal dari dalam dan luar. (3) Konflik yang dialami tokoh anak dalam novel Dunia Duniya karya Dewi Sartika terdiri atas konflik internal dan eksternal. Konflik internal yang dialami terjadi dalam diri tokoh. Konflik eksternal yang dialami yaitu konflik dengan guru, konflik dengan ayah, konflik dengan penjaga kantin, konflik dengan I’i, serta konflik dengan ibu.













BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah
Karya sastra merupakan suatu karya yang imajinatif. Karya sastra mampu menimbulkan imajinasi tertentu dalam benak penikmatnya. Karya sastra mampu membangkitkan perasaan-perasaan senang, sedih, dendam, dan lain-lain. Perasaan tersebut tercipta karena kepandaian pengarang menggunakan teknik bercerita mengenai tokoh, alur, dan latar.
Menurut Sugihastuti (2002: 2) karya sastra sebagai pernyataan dunia batin pengarang yang bersangkutan. Segala gagasan, cita rasa, emosi, ide, dan angan-angan merupakan dunia dalam pengarang, karya sastra merupakan dunia luar yang bersesuaian dengan dunia dalam itu. Penilaian karya sastra tertuju pada emosi atau keadaan jiwa pengarang. Karya sastra dianggap sebagai sarana untuk memahami keadaan jiwa pengarang.
Novel merupakan salah satu jenis karya sastra berbentuk prosa. Menurut Nurgiantoro, (2005: 23-24) novel sebagai salah satu karya sastra dibangun dari sejumlah unsur, setiap unsur akan saling berhubungan dan saling mempengaruhi. Unsur-unsur yang membangun sebuah karya sastra tersebut adalah unsur intrinsik dan unsur ekstrinsik. Unsur intrinsik adalah unsur yang membangun karya sastra itu sendiri. Unsur tersebut antara lain peristiwa, perwatakan, konflik, bahasa atau gaya bahasa. Unsur ekstrinsik adalah unsur-unsur yang berada diluar karya sastra itu, tetapi secara tidak langsung mempengaruhi bangunan atau sistem organisasi karya sastra. Unsur-unsur tersebut misalnya, psikologi, politik, agama, ekonomi, sosiologi, sejarah, filsafat, dan pendidikan.
Sebuah novel pastilah menampilkan berbagai unsur yang membuatnya menjadi menarik, salah satu unsur yang menentukan adalah konflik. Konflik yang timbul antara tokoh-tokoh hendaknya konflik yang benar-benar meyakinkan pembaca untuk suatu latar belakang kenyataan tertentu. Konflik yang dibangun dalam cerita menggambarkan problem aktual masyarakat pada saat cerita itu dibangun. Konflik yang dihadirkan juga harus membuat pembaca menjadi semakin tertarik dan membuat alur cerita menjadi semakin menarik.
Konflik dalam suatu novel dilihat secara psikologis dapat mempengaruhi tingkah laku dan watak tokoh. Timbulnya suatu konflik pada seorang tokoh akan mengakibatkan tokoh tersebut mengalami gangguan psikis kejiwaan. Hal ini disebabkan oleh berbagai faktor, baik faktor dari keluarga atau lingkungan masyarakat. Karya sastra seringkali dianggap sebagai cerminan kehidupan atau perjalanan panjang sebuah kehidupan manusia.
Kehidupan dunia adalah perjalanan panjang seorang anak manusia mulai dari dalam kandungan sampai meninggal dunia. Kehidupan dan perjalanan dari masa kanak-kanak menuju masa dewasa dan tua. Masa kanak-kanak adalah fase penting yang akhirnya berpengaruh besar pada pribadi dan pola pikir seseorang. Pada masa kanak-kanak inilah seorang individu mudah dibentuk karakter dan kepribadiannya.
Berbicara tentang anak adalah hal yang menarik. Anak adalah makhluk yang masih penuh dengan sifat lugu dan mudah mendapat pengaruh dari orang tua, saudara, maupun lingkungannya. Masa kanak-kanak merupakan masa pembentukan kepribadian yang di dalamnya penuh dengan lika-liku. Beberapa hal dalam kehidupan anak sering dianggap ringan dan tidak penting oleh orang dewasa, padahal justru menjadi batu loncatan yang akhirnya membentuk watak seorang individu. Pengenalan terhadap lingkungan, individu lain, maupun makhluk dan benda lain yang dialami oleh anak-anak akan direkam dalam memori otak dan menentukan jenis kepribadian maupun kecerdasan seseorang.
Orang dewasa dan orang tua sering menganggap anak adalah orang yang belum mengetahui hal-hal penting dalam hidup, belum mempunyai permasalahan. Akibatnya, orang dewasa sering tidak memperhatikan kejiwaan anak ketika menghadapi permasalahan atau melihat sesuatu yang baru dalam hidupnya. Orang dewasa seharusnya menjadi pendengar aktif dan fasilitator bagi anak, sehingga mempunyai peran dalam pembentukan pribadi yang baik.
Adanya pandangan yang seolah meremehkan sosok anak, dan adanya anggapan orang dewasa terhadap anak tersebut tidak hanya terjadi pada kehidupan nyata, namun bisa juga terjadi pada tokoh dalam karya sastra. Hal inilah yang menjadi motivator untuk mengkaji sosok anak dalam suatu karya sastra. Dalam dunia sastra khususnya novel, tokoh anak sudah sering diangkat, terutama dalam novel anak, misalnya tokoh Waskito pada novel Pertemuan Dua Hati karya NH Dini, tokoh Yowero pada novel Kapak karya Dewi Linggasari, tokoh Ila pada novel Keajaiban untuk Ila karya Anindita, tokoh Salwa pada novel Perpustakaan Pancuran karya Hikmat Sudjana, tokoh Ali pada novel Bocah Kuat karya Dudun Parwanto, tokoh Yoyok pada novel Semua Sayang Kamu karya Mas Harto. Hadirnya tokoh anak memang sering, namun frekuensinya belum sebanyak tokoh dewasa.
Karakter tokoh dalam suatu novel kadang menjadi tidak wajar menurut pandangan pembaca. Ketidakwajaran tersebut dikarenakan adanya pemaksaan karakter tokoh yang dilakukan oleh pengarang. Tokoh cerita mempunyai posisi yang strategis sebagai pembawa pesan, amanat, moral, atau sesuatu yang sengaja ingin disampaikan kepada pembaca. Keadaan ini justru sering berakibat kurang menguntungkan para tokoh cerita itu dari segi kewajarannya dalam bersikap dan bertindak. Tidak jarang tokoh-tokoh cerita dipaksa dan diperalat sebagai pembawa pesan sehingga sebagai tokoh cerita dan sebagai pribadi kurang berkembang. (Nurgiyantoro, 1992: 86)
Dalam penelitian ini akan dikaji sosok anak yang terdapat pada novel Dunia Duniya karya Dewi Sartika. Dewi Sartika adalah wanita kelahiran Cilegon, 27 Desember 1980. Pendidikan terakhirnya adalah Jurusan Sastra Indonesia Universitas Pendidikan Indonesia Bandung. Dewi Sartika menekuni dunia tulis-menulis, karya-karya tulisannya adalah Dadaisme (2003), Natsuka (2005), My Silly Enggagement (), Numeric Uno (), beberapa skenario dalam acara The Coffee Bean Show, serta Dunia Duniya (2007).
Novel berjudul Dunia Duniya ini adalah salah satu karya Dewi Sartika yang mengisahkan seorang anak perempuan dengan lika-liku hidupnya. Novel ini dipilih sebagai objek penelitian karena menceritakan kehidupan seorang anak yang dalam kehidupannya mengalami berbagai peristiwa kekerasan sehingga membentuk kepribadian yang menarik untuk diteliti. Gaya dan penggambaran tokoh yang ada dalam novel ini menjadi begitu menarik karena pengarang mempunyai latar pengetahuan yang cukup mengenai dunia anak.
Sesuai dengan judul yang memfokuskan pada sosok anak, teori yang digunakan adalah ilmu psikologi perkembangan dan kepribadian. Teori psikologi ini dipilih untuk memudahkan deskripsi kepribadian tokoh, sesuai dengan realita kepribadian sosok anak yang ada dalam masyarakat atau hanya hasil imajinasi pengarang saja.Dewi Sartika menghadirkan tokoh anak sebagai tokoh utama. Konflik yang terdapat dalam novel setebal 154 halaman ini berkisar pada tokoh Duniya dan keluarganya.
Penelitian ini dilakukan berdasarkan beberapa latar belakang, yaitu 1) usaha penerapan teori psikologi dalam sebuah karya sastra yang di dalamnya termuat tipe dan hukum psikologi, 2) tokoh anak dalam novel Duniya ini mempunyai kepribadian yang menarik, hidupnya penuh dengan berbagai konflik yang menarik untuk diteliti, dan 3) keterikatan tokoh anak dengan aturan keluarga dan sekolah yang kaku.
B. Identifikasi Masalah
Berdasarkan hal-hal yang dikemukakan di atas, dapat diidentifikasikan sejumlah permasalahan yang dapat diteliti. Permasalahan-permasalahan yang berkaitan dengan sosok anak dalam novel yang berjudul Dunia Duniya cukup menarik karena memiliki perbedaan dengan anak-anak pada umumnya. Permasalahan yang dialami tokoh Duniya (tokoh anak) cukup kompleks dan menarik. Sejumlah permasalahan tentang tokoh anak dalam novel Dunia Duniya tersebut dikaitkan dengan aspek psikologi dan menghasilkan beberapa identifikasi permasalahan sebagai berikut.
1. Penokohan tokoh utama yang terdapat dalam novel Dunia Duniya sesuai tinjauan teori psikologi.
2. Watak tokoh anak dalam novel Dunia Duniya yang dapat menjadi teladan bagi pembacanya dan sesuai dengan sosok anak menurut teori psikologi.
3. Konflik yang dialami tokoh anak dalam novel Dunia Duniya karya Dewi Linggasari
4. Faktor yang menyebabkan terjadinya konflik dan permasalahan kejiwaan pada tokoh anak dalam novel Dunia Duniya.
5. Kepribadian dan sikap tokoh anak dalam menghadapi permasalahan hidup.
6. Faktor yang mempengaruhi kepribadian tokoh anak dalam novel Dunia Duniya ditinjau dari teori psikologi.
7. Kondisi jiwa pengarang pada saat menciptakan novel Dunia Duniya.
C. Pembatasan Masalah
Berdasarkan hasil identifikasi masalah di atas, dapat dilihat bahwa banyak permasalahan yang berkaitan dengan tokoh anak yang dapat dikaji. Dari beberapa permasalahan yang ditemukan, tidak semua akan dibahas, tetapi hanya beberapa yang cukup penting dan menarik untuk dikaji. Permasalahan yang dikaji dibatasi pada beberapa hal yang ada kaitannya dengan judul, yaitu.
1. Kepribadian dan sikap tokoh anak (Duniya) dalam menghadapi permasalahan hidup.
2. Faktor yang mempengaruhi kepribadian tokoh anak (Duniya) dalam novel Dunia Duniya ditinjau dari teori psikologi.
3. Konflik yang dialami tokoh anak (Duniya) dalam novel Dunia Duniya karya Dewi Sartika.
D. Perumusan Masalah
Berdasarkan identifikasi dan pembatasan masalah di atas, permasalahan dalam penelitian ini dapat dirumuskan sebagai berikut.
1. Bagaimanakah kepribadian dan sikap tokoh anak (Duniya) dalam menghadapi permasalahan hidup?
2. Faktor apa sajakah yang mempengaruhi kepribadian tokoh anak (Duniya) dalam novel Dunia Duniya ditinjau dari teori psikologi?
3. Bagaimanakah konflik yang dialami tokoh anak (Duniya) dalam novel Dunia Duniya karya Dewi Sartika ?
E. Tujuan Penelitian
Berdasarkan rumusan masalah yang memfokuskan pada sosok anak ditinjau dari ilmu psikologi, penelitian ini bertujuan.
1. Mendeskripsikan kepribadian dan sikap tokoh anak (Duniya) dalam menghadapi permasalahan hidup.
2. Mendeskripsikan faktor yang mempengaruhi kepribadian tokoh anak (Duniya) dalam novel Dunia Duniya ditinjau dari teori psikologi.
3. Mendeskripsikan konflik yang dialami tokoh anak (Duniya) dalam novel Dunia Duniya karya Dewi Sartika.
F. Manfaat Penelitian
Manfaat penelitian ini adalah sebagai berikut.
1. Manfaat Teoretis
Secara teoretis, penelitian ini adalah bukti bahwa antara ilmu sastra dan ilmu psikologi mempunyai hubungan. Hubungan kajian sastra dan ilmu psikologi dapat digunakan untuk mengetahui kebenaran para tokoh yang ditampilkan, kesesuaian pribadinya dengan teori psikologi atau hasil imajinasi pengarang saja. Tinjauan psikologis terhadap pribadi tokoh Duniya sebagai tokoh anak dalam novel Dunia Duniya diharapkan dapat memberikan sumbangan pemikiran dalam pengembangan karakter tokoh anak dalam karya sastra khususnya novel. Dengan demikian, tokoh anak dalam sebuah karya sastra dapat lebih realistik


2. Manfaat Praktis
Hasil kajian ini diharapkan menjadi salah satu acuan dalam pengajaran apresiasi sastra. Kaitannya dengan pengajaran diharapkan novel tersebut dapat dijadikan bahan pengajaran sastra di SMP maupun SMA yang berkaitan dengan tokoh dalam novel. Penelitian ini diharapkan dapat mengurangi perbedaan pemahaman antara guru dan siswa dalam memahami tokoh anak dalam novel Dunia Duniya ditinjau dari teori psikologi. Norma yang terkandung dalam novel tersebut dapat dijadikan panutan dan cerminan bagaimana agar bersikap bijaksana dalam hidup.

























BAB II
KAJIAN PUSTAKA

A. Novel
Novel merupakan salah satu jenis prosa fiksi yang umumnya terdiri dari empat puluh lima ribu kata atau lebih. Novel ceritanya cenderung bersifat expands “meluas” dan lebih menitikberatkan pada munculnya complexity “kompleksitas”. Sebuah novel jelas tidak dapat selesai dibaca dalam sekali duduk, karena panjangnya, sebuah novel secara khusus memiliki peluang yang cukup untuk mempermasalahkan karakter tokoh dalam sebuah perjalanan waktu secara kronologi. Jadi, salah satu aspek perjalanan waktu dalam novel ialah pengembangan tokoh (Sayuti, 2000: 8-11). Karya sastra yang berbentuk novel mampu menampilkan tokoh dengan karakter yang rinci karena cerita dalam novel relatif panjang.
Menurut Nurgiyantoro, (2005: 23-24) novel sebagai salah satu karya sastra dibangun dari sejumlah unsur, dan setiap unsur akan saling berhubungan saling mempengaruhi. Unsur-unsur yang membangun sebuah karya tersebut adalah unsur intrinsik dan unsur ekstrinsik. Unsur intrinsik adalah unsur yang membangun karya sastra itu sendiri. Unsur tersebut antara lain, peristiwa, perwatakan, konflik, bahasa atau gaya bahasa. Unsur ekstrinsik adalah unsur-unsur yang berada di luar karya sastra itu, tetapi secara tidak langsung mempengaruhi bangunan atau sistem organisme karya sastra. Unsur-unsur tersebut misalnya, psikologi, politik, agama, ekonomi, sosiologi, sejarah, filsafat, dan pendidikan.
B. Psikologi dalam Sastra
Psikologi dalam sastra berawal dari sebuah pendekatan, suatu langkah untuk mengulas dunia sastra dari sudut pandang psikologi. Tindakan sebagai upaya membedah karya sastra yang menitikberatkan pada pandangan psikologi. Pendekatan ini adalah langkah untuk memahami perilaku manusia dalam karya sastra. Kenyataan peristiwa kehidupan yang ada pada karya sastra menjadi awal pendekatan psikologi sastra. (Semi, 1990: 76)
Pendekatan psikologi adalah pendekatan penelaahan sastra yang menekankan pada segi-segi psikologis yang terdapat dalam suatu karya sastra (Semi, 1984: 46). Sebuah penelitian yang menggunakan pendekatan jenis ini, selalu mengaitkan aspek yang ada dalam karya dengan peristiwa kejiwaan atau peristiwa psikologis. Gejala psikologis yang dialami oleh tokoh dalam suatu karya sastra merupakan hal yang dapat diteliti dengan menggunakan psikologi sastra. Tokoh dalam karya mengalami berbagai peristiwa yang terangkai dalam alur, peristiwa inilah yang menampakkan gejala psikologis. Semakin hidup cerita sebuah karya sastra, maka semakin jelas terlihat penggunaan aspek-aspek psikologis.
Wellek dan Waren (terjemahan Budianta, 1990: 91) mengemukakan bahwa penelitian pengaruh psikologi terhadap kesusastraan dapat dilakukan melalui empat aspek. Keempat aspek itu adalah (1) penelitian terhadap jiwa pengarang sebagai suatu tipe atau individu, (2) penelitian terhadap proses kreatif atau proses penciptaan karya sastra, (3) penelitian terhadap tipe-tipe dan hukum-hukum psikologi dalam karya sastra, dan (4) penelitian terhadap peminat atau pembaca karya sastra.
Sebuah penelitian karya sastra dengan menggunakan pendekatan psikologis dapat menelaah keempat aspek tersebut, tetapi memungkinkan untuk memilih salah satu atau sebagian aspek saja. Pemilihan aspek yang akan diteliti tentu saja memperhatikan beberapa hal seperti isi novel, pengarang, dan daya tarik novel. Dalam kajian ini, pengkaji menelaah aspek psikologi yang tercermin dalam tokoh dengan memperhatikan tipe dan hukum psikologi. Keberadaan pengarang hanya sebagai data pendukung. Pengkaji menggunakan aliran psikologi kepribadian dan perkembangan sebagai dasar teori.
Secara definisi, psikologi sastra adalah memahami aspek-aspek kejiwaan yang terkandung dalam suatu karya (Ratna, 2006: 342). Menurut Ratna, pada dasarnya psikologi sastra memberikan perhatian pada masalah unsur-unsur kejiwaan tokoh fiksional yang terkandung dalam karya. Sebuah karya sastra selalu memasukkan berbagai aspek kehidupan kedalamnya, khususnya manusia. Aspek-aspek kemanusiaan inilah yang merupakan objek utama psikologi sastra.
Karya sastra yang dipandang sebagai fenomena psikologis akan menampilkan aspek-aspek kejiwaan melalui tokoh-tokoh jika kebetulan teks berupa drama atau prosa. Karya sastra dan psikologi memiliki pertautan erat secara tak langsung dan fungsional. Pertautan tak langsung, karena baik sastra maupun psikologi memiliki objek yang sama yaitu kehidupan manusia. Psikologi dan sastra memiliki hubungan fungsional karena sama-sama untuk mempelajari keadaan kejiwaan orang lain, bedanya dalam psikologi gejala tersebut riil, sedangkan dalam sastra bersifat imajinatif (Endraswara, 2003: 96-97).
Dalam mengkaji seorang tokoh dalam sebuah karya sastra, maka tokoh dalam karya haruslah dipandang sebagai tokoh yang dilahirkan dengan menganut tipe dan hukum psikologi. Siswantoro (2005: 18) mengemukakan bahwa psikologi dalam analisis sastra berperan sebagai pendekatan. Teori-teori psikologi berupa alat pembedah, karya sastra berfungsi sebagai objek yang dibedah. Psikologi menjadi pengukur analisis yang mengikat peneliti dalam berimajinasi atau membatasi kebebasan peneliti mengikuti intuisinya.
Menurut Endraswara (2003: 98-99), dalam kaitannya dengan penggunaan tipe dan hukum psikologi, maka sebuah penelitian dapat diarahkan pada teori psikologi ke dalam karya sastra. Asumsi dari kajian ini bahwa pengarang sering menggunakan teori psikologi tertentu dalam penciptaan. Tipe dan hukum dari psikologi yang dapat diterapkan dalam mengkaji tokoh dalam sebuah karya sastra adalah psikologi umum dan khusus yang selanjutnya dicari yang paling dekat dengan karya yang akan dikaji.
1) Psikologi Umum
2) Psikologi Khusus, meliputi antara lain: psikologi anak, psikologi orang tua, psikologi perkembangan, psikologi kepribadian, psikologi sosial, psikologi anak luar biasa.
Berkenaan dengan psikologi dalam sastra yang meneliti perwatakan tokoh cerita, psikologi khusus yang digunakan adalah psikologi kepribadian dan perkembangan. Psikologi kepribadian digunakan karena ilmu ini membicarakan berbagai watak dan kepribadian seseorang dan faktor-faktor yang mempengaruhi. Psikologi perkembangan juga digunakan karena ilmu ini membicarakan perkembangan seseorang sejak dalam kandungan sampai akhir hayatnya.
C. Tujuan Penelitian Psikologi Sastra
Psikologi sastra bertujuan untuk memecahkan masalah-masalah psikologi yang ada dalam karya sastra. Selain itu, psikologi sastra juga sebagai upaya untuk memahami aspek kejiwaan yang terkandung pada suatu karya sastra. Tujuan ini lebih cenderung melihat faktor psikologi dalam hasil karya. Psikologi pengarang menjadi terabaikan (Ratna, 2004: 342).
Penelitian psikologi sastra memang memiliki landasan pijak yang kokoh. Baik sastra maupun psikologi sama-sama mempelajari hidup manusia. Perbedaan, kalau sastra mempelajari manusia sebagai ciptaan imajinasi pengarang, sedangkan psikologi mempelajari manusia sebagai ciptaan Tuhan secara nyata. Namun, sifat-sifat manusia dalam psikologi maupun sastra sering menunjukkan kemiripan, sehingga psikologi sastra memang tepat dilakukan. Meskipun karya sastra bersifat kreatif dan imajiner, pencipta tetap sering memanfaatkan hukum-hukum psikologi untuk menghidupkan karakter tokoh-tokohnya.
D. Sasaran Penelitian Psikologi Sastra
Pendekatan psikologis pada dasarnya berhubungan dengan tiga gejala utama, yaitu: pengarang, karya sastra, dan pembaca dengan pertimbangan bahwa pendekatan psikologi lebih banyak berhubungan dengan pengarang dan karya sastra (Ratna, 2004: 61).
Pada dasarnya psikologi sastra memberikan perhatian pada masalah yang kedua, yaitu pembicaraan dalam kaitannya dengan unsur-unsur kejiwaan tokoh-tokoh fiksional yang terkandung dalam karya. Pada umumnya, aspek-aspek kemanusiaan inilah yang merupakan objek utama psikologi sastra, sebab semata-mata dalam diri manusia itulah, sebagai tokoh-tokoh, aspek kejiwaan dicangkokkan dan diinvestasikan. Dalam analisis, pada umumnya yang menjadi adalah tokoh utama, tokoh kedua, tokoh ketiga, dan seterusnya (Ratna, 2004: 343).
Hal yang sering menjadi pusat perhatian dalam kajian psikologi sastra adalah tokoh yang ada dalam karya sastra. Tokoh dalam sebuah karya membawakan cerita yang terangkai dalam alur. Dalam alur inilah, seorang tokoh mengalami berbagai peristiwa sehingga nampaklah fenomena-fenomena psikologi yang kemudian dapat dikaji. Kajian psikologi dalam sebuah karya sastra tentu saja menggunakan ilmu psikologi yang sesuai dengan tokoh. Perilaku tokoh, kepribadian tokoh, konflik yang dialami tokoh merupakan hal yang dipertimbangkan dalam penelitian psikologi sastra.
E. Konsep Tentang Anak
Menurut Sujanto (1996: 1), masa kanak-kanak, yaitu sejak lahir sampai lima tahun, masa anak yaitu umur enam sampai dua belas tahun. Menurut Sujanto (1996: 68), ada beberapa hal dalam diri anak yang dipengaruhi oleh keluarga dan lingkungannya, yaitu perkembangan sifat sosial anak, perasaan, motorik, bahasa, pikiran, pengamatan, kesusilaan/agama, tanggapan, fantasi, mengambil keputusan, perhatian, estetika.
F. Psikologi Kepribadian
Psikologi kepribadian dapat dirumuskan sebagai psikologi yang khusus membahas kepribadian (Sujanto, 2001: 2).
Berdasarkan objeknya maka psikologi kepribadian termasuk psikologi khusus yang mempelajari tentang kepribadian seseorang. Pribadi itu dapat berubah sehingga sering ada usaha untuk mendidik pribadi anak. Untuk mengetahui watak seseorang dapat dilihat melalui sifat, tindakan, dan pernyataan yang tampak dalam kehidupan sehari-hari (Sujanto, 1997: 2).
Sujanto (2001: 70) membagi kepribadian manusia menjadi dua tipe. Pembagian ini didasarkan pada sikap seorang indivudu terhadap lingkungannya. Seorang individu dapat menunjukkan suatu sikap tertentu yang merupakan cermin dari kepribadian yang dimiliki.
a. Manusia yang bertipe ekstroverts
Manusia yang dipengaruhi oleh dunia objektif, yaitu dunia di luar dirinya. Orientasinya tertuju keluar; pikiran, perasaan, serta tindakannya ditentukan oleh lingkungannya, baik lingkungan sosial maupun non sosial. Dia bersikap positif terhadap masyarakat; hatinya terbuka, mudah beragaul, hubungan dengan orang lain lancar. Bahaya tipe ini adalah apabila ikatan pada dunia luar itu terlampau kuat, ia akan tenggelam di dalam dunia objektif, kehilangan dirinya atau asing terhadap terhadap dunia subjektifnya sendiri.
b. Manusia yang bertipe introverts
Manusia yang dipengaruhi oleh dunia subjektif, yaitu dunia di dalam dirinya sendiri. Orientasinya terutama tertuju ke dalam; pikiran, perasaan serta tindakannya ditentukan oleh faktor-faktor subjektif. Penyesuaian dengan dunia luar kurang baik. Jiwanya tertutup, sukar bergaul, sukar berhubungan dengan orang lain, tetapi penyesuaian dengan hatinya sendiri baik. Bahaya tipe ini kalau jarak dengan dunia objektif terlalu jauh, orang akan terlepas dari dunia objektifnya.

Kepribadian seseorang dapat dibentuk oleh dua kekuatan, yakni faktor dalam atau pembawaan dan faktor luar atau lingkungan (Sujanto, 1997: 5).
a. Faktor Dalam
Faktor dari dalam atau pembawaan adalah segala sesuatu yang dibawa anak sejak lahir, bersifat kejiwaan atau ketubuhan. Kejiwaan itu berupa pikiran, perasaan, kemauan, fantasi, dan ingatan. Sedangkan jasmaniah itu berupa panjang pendeknya leher, besar kecilnya tengkorak, susunan urat syaraf, otot-otot, dan keadaan tulang (Walgito, 1994: 49).
b. Faktor Luar
Faktor luar merupakan faktor yang datang dari luar individu yang meliputi pengalaman, pendidikan, dan alam sekitar (Walgito, 1994: 49).
Faktor luar (ekstern) dibedakan atas faktor sosial dan non sosial. Faktor sosial terdiri atas keluarga, sekolah, dan masyarakat. Faktor non sosial terdiri atas binatang, tumbuhan, iklim, musim, benda alam, budaya, adat. Faktor luar inilah yang biasa disebut lingkungan (Sujanto, 1996: 60).
G. Psikologi Perkembangan
Psikologi perkembangan dapat diartikan sebagai suatu ilmu pengetahuan yang mempelajari kegiatan/tingkah laku individu manusia dalam perkembangannya beserta latar belakang yang mempengaruhinya (Sabri, 1993: 134).
Ada fase dan ciri perkembangan anak yang dimulai dari bayi lahir hingga usia menjelang remaja. Menurut Sabri (1993: 146), ada pendapat beberapa ahli mengenai periodisasi perkembangan yang dapat digolongkan dalam tiga bagian, yaitu periodisasi yang berdasar biologis, periodisasi yang berdasar didaktis, dan periodisasi yang berdasarkan psikologis.
Masa anak dibagi menjadi tiga stadium, yaitu 1) stadium pertama (4-8 tahun): anak mulai berusaha mengenal dunia luar dan sifat egonya berangsur-angsur berkurang, anak sering berdusta, sering bermain dengan fantasinya; 2) stadium kedua (8-10 tahun): larangan dunia realisme bertambah luas dan fantasinya bertambah sempit; 3) stadium ketiga (10-12 tahun): anak mulai berpikir terhadap realita, keterangan orang tua tidak hanya ditelan mentah-mentah, melainkan mulai dipertimbangkan, pada saat ini anak-anak lebih senang berada di alam bebas daripada di dalam ruang/rumahnya sendiri
H. Konflik
Konflik merupakan unsur yang sangat penting dalam pengembangan sebuah plot cerita, selain peristiwa dan klimaks. Konflik adalah kejadian yang tergolong penting, merupakan unsur-unsur yang esensial dalam pengembangan plot (Nurgiyantoro, 2005: 122).
Tarigan (1993: 134) menyatakan bahwa dalam kenyataannya konflik itu beraneka ragam, yaitu 1) manusia dengan manusia, 2) manusia dengan masyarakat, 3) manusia dengan alam sekitar, 4) satu ide dengan ide yang lainnya, dan 5) seseorang dengan kata hatinya.
Peristiwa dan konflik biasanya berkaitan erat, dapat saling menyebabkan terjadinya satu dengan yang lain, bahkan konflik pun hakikatnya merupakan peristiwa. Ada peristiwa tertentu yang dapat menimbulkan terjadinya konflik. Sebaliknya, karena terjadi konflik, peristiwa-peristiwa lain pun dapat bermunculan, misalnya yang sebagai akibatnya. Konflik demi konflik yang disusul oleh peristiwa demi peristiwa akan menyebabkan konflik menjadi semakin meniningkat. Konflik yang telah sedemikian meruncing, katakan sampai pada puncak, disebut klimaks (Nurgiyantoro, 2005: 123).
a. Konflik Eksternal
Konflik eksternal adalah konflik yang terjadi antara seorang tokoh dengan sesuatu yang di luar dirinya, mungkin dengan lingkungan alam mungkin lingkungan manusia. Dengan demikian, konflik eksternal dapat dibedakan ke dalam dua kategori, yaitu konflik fisik dan konflik sosial.
Konflik fisik atau konflik elemental adalah konflik yang disebabkan adanya perbenturan antara tokoh dengan lingkungan alam. Konflik ini biasa dikaitkan dengan interaksi fisik, misalnya perkelahian. Konflik sosial adalah konflik yang disebabkan oleh adanya kontak sosial antar manusia, atau masalah-masalah yang muncul akibat adanya hubungan antarmanusia.
b. Konflik Internal
Konflik internal atau kejiwaan adalah konflik yang terjadi dalam hati, jiwa seorang tokoh cerita. Konflik yang dialami manusia dengan dirinya sendiri, merupakan permasalahan intern seorang manusia. Konflik internal biasa juga disebut konflik batin.
Konflik batin adalah konflik yang terjadi dalam hati atau dalam diri seorang tokoh. Seorang tokoh yang mengalami konflik batin, maka ia mengalami gejolak jiwa yang mungkin disebabkan oleh tokoh lain, namun konflik hanya terjadi pada dirinya sendiri.












BAB III
METODE PENELITIAN

A. Subjek dan Objek Penelitian
Subjek penelitian adalah hal yang dikaji, yang di dalamnya terangkum gajala atau variabel yang menjadi problem penelitian (Siswantoro, 2005: 125). Subjek dalam penelitian ini adalah novel berjudul Dunia Duniya karya Dewi Sartika. Novel Dunia Duniya yang diteliti adalah novel yang ditulis oleh Dewi Sartika.
Novel ini adalah cetakan pertama yang diterbitkan tahun 2007 oleh penerbit Grasindo, terdiri dari 154 halaman. Novel Dunia Duniya ini merupakan novel yang mengisahkan perjalanan anak yang tumbuh dalam didikan keras kedua orang tuanya, hidupnya selalu beriringan dengan kekerasan.
Objek penelitian harus ada sebagai tindak ilmiah yang merupakan gejala atau fenomena yang akan diteliti. Penelitian psikologis berarti analisis diarahkan kepada telaah perilaku manusia yang hadir di dalam fiksi (Siswantoro, 2005:55). Objek dalam penelitian ini adalah tokoh Duniya yang dilihat dari kepribadian dan perkembangan psikologisnya tanpa melihat unsur-unsur yang lain.
B. Metode Pengumpulan Data
Dalam penelitian ini, pengumpulan, penemuan, dan penjawaban masalah dilakukan dengan observasi, kajian pustaka, dan baca catat. Teknik observasi yaitu dengan cara membaca secara cermat dan teliti novel Dunia Duniya untuk mencari tokoh anak (Duniya) serta kepribadian dan perkembangan psikologisnya. Teknik kajian pustaka digunakan untuk mencari, menemukan, dan menelaah berbagai buku atau kepustakaan sebagai sumber tertulis selain novel Dunia Duniya yang merupakan sumber utamanya. Teknik baca catat digunakan untuk membaca berulang-ulang novel Dunia Duniya dan mencatat poin-poin penting yang dapat dijadikan pendukung hasil penelitian.
C. Instrumen Penelitian
Pengertian instrumen penelitian merujuk kepada alat pengumpul data (Siswantoro, 2005:133). Dalam penelitian ini, instrumen yang digunakan adalah teks dan peneliti. Selain itu, digunakan alat bantu berupa kartu data. Data dalam penelitian ini bersifat kualitatif, maka kartu data digunakan untuk mencatat semua data yang diperoleh melalui observasi. Kartu data digunakan untuk mencatat dan mengklasifikasikan hasil studi pustaka ataupun kumpulan data sesuai dengan jenis data yang telah ditentukan.
D. Metode Analisis Data
Metode dapat diartikan sebagai prosedur atau tata cara yang sistematis yang dilakukan seorang peneliti dalam upaya mencapai tujuan seperti memecahkan masalah atau menguak kebenaran atas fenomena tertentu (Siswantoro, 2005:55). Metode yang digunakan untuk menganalisis data dalam penelitian ini adalah analisis deskriptif kualitatif.
Langkah yang dilakukan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut.
1. Melakukan pemahaman dan perbandingan antara data yang satu dengan yang lain sekaligus membandingkan data dengan teori.
2. Mengidentifikasikan data ke dalam kategori-kategori yang sejenis sesuai dengan permasalahan yang akan dianalisis.
3. Menyajikan data dalam bentuk tabel dari hasil identifikasi.
4. Menginterpretasikan hasil perolehan data yang sudah diidentifikasi.
5. Membuat kesimpulan data menggunakan pendekatan psikologi.



















BAB IV
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

A. Hasil Penelitian
Hasil penelitian yang diperoleh berupa deskripsi mengenai aspek psikologis dalam novel Dunia Duniya karya Dewi Sartika. Aspek tersebut digambarkan melalui 1) kepribadian dan sikap tokoh anak dalam menghadapi permasalahan hidup, 2) faktor yang mempengaruhi kepribadian tokoh anak dalam novel Dunia Duniya ditinjau dari teori psikologi, 3) konflik yang dialami tokoh anak dalam novel Dunia Duniya karya Dewi Sartika. Hasil penelitian tiap-tiap butir permasalahan ditampilkan dalam bentuk tabel sebagai berikut.
Tabel 1. Kepribadian dan Sikap Tokoh Anak (Duniya) dalam Menghadapi Permasalahan Hidup

Tipe Kepribadian dan Sikap Duniya
Ekstroverts Hlm Introverts Hlm
1. Tangguh, Tegar 9, 11, 42
1. Kurang pandai
7
2. Optimis dan bersemangat 15, 74, 120
2. Pendendam
12
3. Tidak mudah jera
20
3. Senang berkhayal 17
4. Rasa empati yang tinggi
23, 34, 69, 80, 89, 104 4. Penakut
31, 45
5. Bersedia mengakui kesalahan
94,

6. Mampu menerima kehadiran orang asing dengan cepat 116


Tabel 2. Faktor yang Mempengaruhi Kepribadian Tokoh Anak (Duniya) dalam Novel Dunia Duniya Ditinjau dari Teori Psikologi

No Faktor Dalam Hlm Faktor Luar Hlm
1 Tingkat kecerdasan rendah 7 Sikap guru yang masa bodoh terhadapnya 9, 14, 90
2 Sikap orang tua yang kasar 9,10, 36
3 Selalu ditekan dan dipaksa 10, 45
4 Tumbuh dalam lingkungan yang penuh dengan kekerasan 10, 64, 106
5 Menyaksikan kecurangan 16, 74

Tabel 3. Konflik yang Dialami Tokoh Anak (Duniya) dalam Novel Dunia Duniya Karya Dewi Sartika

No Konflik Eksternal Hlm No Konflik Internal Hlm
1 Konflik dengan guru 7, 90 1 Kesedihan yang mendalam 16, 51,
2 Konflik dengan ayah 9, 10 2 Rasa kesepian 23, 24,
3 Konflik dengan penjaga kantin 19 3 Dihantui rasa ketakutan terhadap sikap kasar orang tua 64, 66,
4 Konflik dengan I’i 23 4 Kecewa 82, 130,
5 Konflik dengan ibu 36, 42 5 Kebingungan yang menyiksa 115,

Duniya mengalami berbagai konflik baik konflik internal maupun eksternal. Konflik yang dialami oleh Duniya adalah konflik yang cukup rumit yang seharusnya tidak dialami oleh anak seusianya. Setiap orang dapat mengalami permasalahan kejiwaan tanpa terkecuali. Keberadaan dan kondisi sosial ataupun ekonomi seseorang tidak membuatnya lepas dari masalah. Setiap individu tetap akan mengalami konflik, hanya saja mungkin terjadi dalam bentuk yang berbeda.
Konflik yang dialami oleh seseorang dapat berupa konflik internal maupun konflik eksternal. Konflik internal adalah konflik yang terjadi dalam hati, jiwa seorang tokoh cerita. Konflik yang dialami manusia dengan dirinya sendiri, merupakan permasalahan intern seorang manusia. Konflik internal biasa juga disebut konflik batin. Konflik eksternal adalah konflik yang terjadi antara seorang tokoh dengan sesuatu yang di luar dirinya, mungkin dengan lingkungan alam mungkin lingkungan manusia.
B. Pembahasan
Hasil penelitian yang telah diperoleh selanjutnya akan dibahas. Hasil penelitian pada tabel di atas merupakan bentuk ringkas dari pembahasan di bawah ini.
1. Kepribadian dan Sikap Tokoh Anak dalam Menghadapi Permasalahan Hidup
Tabel 1 berisi tentang kepribadian dan sikap tokoh anak (Duniya) dalam menghadapi permasalahan hidup secara ringkas. Penjelasan kepribadian dan sikap di bawah ini berupa gambaran mengenai tipe kepribadian, yaitu tipe introverts dan ekstroverts.
a. Kepribadian Ekstroverts
1) Tangguh dan Tegar
Tokoh Duniya memiliki berbagai sikap yang menjadi ciri dan biasa dimiliki seseorang yang mempunyai sisi kepribadian ekstroverts. Tokoh Duniya memiliki sikap tangguh dan tegar dalam menghadapi berbagai permasalahan hidup. sikap tegar yang dimiliki membuktikan bahwa seseorang mampu mengendalaikan dan menguasai dirinya sehingga memungkinkan interaksi dengan dunia luar yang bagus. hal itu dibuktikan dengan kutipan di bawah ini.
Aku meringis kesakitan dan menahan diri untuk tidak menangis. (Hlm: 9)

Setelah selesai memukuli, Ayah segera pergi. Aku meringis sambil memandang ke arah teman-temanku yang kebingungan.
Dengan tegar aku tersenyum pada mereka, ”Nggak apa-apa. Nggak sakit kok!” ucapku sambil melambai-lambaikan tanganku sekan ingin memastikan bahwa aku baik-baik saja. (Hlm: 11)

Walau hukuman karena pergi ke kolam buaya putih sangat menyakitkan, tapi aku tetap merasa bahagia bisa melakukan perjalan bersama Sihar. Bagiku, pergi bermain dengan Sihar seperti melakukan penjelajahan alam liar dan melihat berbagai hal. (Hlm: 42)

Tampak sikap Duniya yang tangguh da tegar dalam menghadapi hukuman dari kedua orang tuanya. Rasa sakit yang dialami tetap dapat ia tahan, dalam kutipan disebutkan bahwa Duniya menahan tangis dan bahkan tetap mencoba meyakinkan orang bahwa ia tidak merasa sakit. Sebagai seorang anak ia tergolong tangguh, mampu menahan tangis padahal sakit yang ia rasakan sebenarnya sangat menyiksa. ketangguhan dan ketegaran itu semakin terbukti ketika ia masih tetap merasakan kebahagiaan setelah mendapat hukuman yang menyakitkan karena bermain bersama Sihar.
2) Optimis dan Bersemangat
Tokoh Duniya memiliki sikap yang optimis dan bersemangat. Sikap ini menunjukkan bahwa Duniya seorang anak yang kuat menatap masa depan dan menjalani kehidupannya yang beriringan dengan kekerasan. Sikap ini merupakan salah satu ciri kepribadian ekstoverts. Seseorang yang memiliki sikap seperti ini akan mudah dalam berinteraksi dengan dunia luar.
Suatu kali Ustazah Aima berkata bahwa ia akan memberikan hadia cokelat bagi anak yang tulisan arabnya bagus. Mendengar janji tersebut, aku bersemangat dan segera membuat tulisan Arab terbagus yang aku bisa. Aku yakin aku bisa. (Hlm: 15)

Setelahnya aku mengetahui kalau guruku di kelas tiga tidak menyukaiku karena menganggap aku tidak pernah serius belajar, selalu bermain, dan menjawab soal tidak sesuai metode. Tapi, ketika aku di kelas empat, pada cawu pertama aku berhasil meraih rangking tiga, dengan nilai rata-rata delapan. Itu terjadi ketika kepala sekolah yang lama diganti dengan kepala sekolah yang baru. (Hlm: 74)

Aku mencari, sampai jauh menelusuri. Kakiku melangkah sampai penat. Walau terik mentari menyengat kulitku dan keringat sudah mengalir, aku tetap bersikeras mencari. Aku tidak ingin kehilangan lagi, tidak ingin merasa sedih lagi. (Hlm: 120)

Duniya mempunyai semangat dan optimisme yang tinggi dalam menjalani hidup. dalam kutipan pertama terlihat betapa bersemangatnya ia ketika berusa membuat tulisan sebagus mungkin untuk mendapatkan hadiah dari ustazah. Ia tidak peduli dengan kemampuan yang dimiliki, yang terlihat adalah semangat dan optismenya bahwa ia akan menghasilkan tulisan yang bagus. Kutipan kedua menjelaskan bahwa meskipun di kelas tiga Duniya hampir saja tidak naik kelas, tetapi ia tetap bersemangat dalam belajar sehingga setelah duduk di kelas empat ia berhasil berada di peringkat tiga. Sikap bersemangat semakin terlihat pada saat ia mengejar si gila dalam kutipan tiga.
3) Tidak Mudah Jera
Berbagai guncangan dan kekerasan hidup yang dialami membuat Duniya harus mampu bertahan. Hal ini membentuk sikap tidak mudah jera dalam diri Duniya. Sikap tidak mudah jera yang dimilikinya bukan dalam hal menghadapi sikap orang tuanya, tetapi ketika menyikapi hal asing bersama teman sepermainannya, nampak dalam kutipan berikut.
”Nggak kapok juga, Niya?” tanya Dini yang mengikuti dari belakang. Sesekali Dini melihat ke bawah, berjalan dengan hati-hati seperti tengah meniti. Dini takut ada beling mengenai kakinya.
”Nggak dong!” tegasku. Aku mengamati karing besar tersebut, terikat demikian rapi. Tanganku segara berusaha untuk mengutak-atik ikatannya. (Hlm: 20)

Kutipan di atas adalah suasana ketika Duniya bermain bersama Dini di tempat penampungan sampah. Sehari sebelumnya Duniya menemukan cincin yang dianggap telah membuat sial, tapi dia tidak jera. Duniya tetap kembali ke tempat penampungan sampah dengan tujuan yang sama, yaitu mencari barang-barang yang dianggap menarik. Hal yang ditulis dalam kutipan di atas adalah bukti bahwa Duniya tidak jera untuk berpetualang.
4) Rasa Empati yang Tinggi
Duniya tumbuh menjadi anak yang memiliki empati terhadap orang lain. Ia selalu dapat merasakan kesedihan yang dirasakan orang lain dan bahkan selalu berusaha mencari solusi atas kesedihan yang dirasakan orang lain. Dalam novel ini diceritakan bahwa Duniya sering mengalami kesedihan, hal ini ikut membentuk sikap empati dalam dirinya. Sikap empati yang dirasakan terlihat dalam beberapa kutipan di bawah ini, yaitu empati terhadap Dini, Si Gila, ikan, anak anjing, Luki, dan Sihar.
Melihat kondisinya, aku jadi iba. jadi kukatakan padanya untuk jangan khawatir dan aku akan menyampaikan pada ustazah bahwa Dini tidak bisa masuk karena flu.... (Hlm: 23)

”... Pasti tidak enak ya jadi orang gila. semua serba-kotor. Tidur juga di sini. Apa kamu nggak kedinginan? Ehm... di rumah kayaknya ada selimut yang nggak dipakai. Nanti aku minta sama Mama, mungkin dia akan ngasih. Biar kamu nggak kedinginan lagi,” aku masih menyerocos tidak keruan. (Hlm: 34)

...Ikan masuk dalam tanganku, menggelapar-gelepar karena air cepat habis terkuras karena tanganku tidak bisa sempurna merapat. Tetapi, aku merasa iba dan kulepas ikan itu kedalam air, si ikan bergerak gesit lalu meluncur menjauhiku. (Hlm: 69)

kami bertiga berkeliling kompleks dan menanyakan pada teman-teman kami yang lain perhal anak anjing tersebut, adakah diantara mereka yang bersedia memeliharanya. Sayangnya, walau aku, Dini, Nurul, dan Aisyah berusaha, teman-teman kami tidak berminatuntuk memiliki anak anjing. Itu wajar, bagi orang-orang di kompleks, hukumnya najis kalau kami memelihara anjing. (Hlm: 80)

...Jatuh iba pada Luki yang menjadi bulan-bulanan beberapa anak karena pola pikirnya yang telmi, aku pun bersedia berteman dengannya. (Hlm: 89)

Air mataku mendadak jatuh ke pipi, aku tidak bisa menahannya. Di dalam dadaku, seperti ada bendungan yang jebolmenghantam semua kepedihanku. Ini kali pertama aku menangis sesenggukan tanpa sebab. (Hlm: 104)

Beberapa kutipan di atas membuktikan bahwa tokoh ini mempunyai sikap empati yang sangat tinggi. Duniya berempati ketika Dini sahabatnya terkena flu, sebagai wujid dari sikap itu kemudian ia berinisiatif memintakan ijin kepada ustazah. Empati nampak lagi ketika Duniya melihat orang gila yang hidup menderita. seorang anak seusia dia biasanya tidak akan terlalu peduli terhadap hal yang dialami orang lain, terlebih lagi orang gila. Akan tetapi, Duniya justru berkeinginan memberikan selimut pada si gila.
Pada kutipan ketiga dan empat, dijelaskan bahwa Duniya juga memiliki empati terhadap hewan, ikan dan anak anjing. Ketika menangkap ikan dia tidak tega dan dilepaskan lagi, ketika menemukan seekor anjing ia ingin memelihara dan menyayangi anak anjing itu. Penolakan dari ibunya tidak membuat empati itu hilang, Duniya tetap berusaha menyelamatkan anak anjing itu dengan berjalan keliling kompleks mencari orang yang mau memelihara anak anjing itu.
Kutipan kelima adalah bukti bahwa Duniya berempati kepada Luki dan Sihar. Empati terhadap Luki muncul ketika Luki yang saat itu adalah murid baru dijauhi oleh teman-teman sekelas. Duniya jatuh iba dan kemudian bersedia menjadi teman untuk Luki. Terhadap Sihar, Duniya berempati ketika mendapati sahabatnya itu lebam karena dipukuli. Enam kutipan di atas adalah bukti yang kuat bahwa tokoh Duniya memiliki rasa empati yang tinggi.
5) Bersedia Mengakui Kesalahan
Duniya sebagai seorang anak tentu saja tidak luput dari kesalahan. Kutipan di bawah ini menunjukkan bahwa tokoh Duniya dalam novel ini memiliki sikap terpuji yaitu bersedia mengakui kesalahan, meskipun dalam kasus ini sebenarnya bukan murni kesalahannya. Duniya tidak peduli hal yang terjadi tersebut salahnya atau salah orang lain, yang ia ingin lakukan adalah megaku salah demi untuk menetralkan suasana dan melindungi Luki.
Setelah itu mama Luki menemuiku kembali, hendak pamit, namun aku berujar dengan cepat, ”Tante, Luki nggak salah. Dia nggak mendorong saya.”
Sekali lagi mama Luki tersenyum, lalu berkata, ”Luki beruntung punya teman sebaik kamu. Terima kasih sudah mempercayai Luki.” (Hlm: 94)

Orang tua Luki datang ke rumah Duniya menyerahkan uang sebagai ganti rugi biaya pengobatan kecelakaan untuk Duniya. Mereka juga meminta maaf karena menurut mereka Lukilah yang menyebabkan Duniya kecelakaan. Duniya menunjukkan sikap bersedia mengakui kesalahan dengan mengatakan bahwa dalam kecelakaan ini dialah yang bersalah, bukan Luki. Pengakuan yang diberikannya itu membuat mama Luki terharu dan menganggap bahwa anaknya beruntung memiliki teman seperti Duniya.
6) Mampu Menerima Kehadiran Orang Asing dengan Cepat
Anak-anak biasanya sulit menerima kehadiran orang asing, terlebih lagi jika orang tersebut adalah orang yang membuat pikirannya tidak tenang. Duniya dengan mudah mampu menerima kehadiran si gila, orang yang masih asing baginya. orang dewasa di sekitarnya saja tidak dapat menerima kehadiran orang gila ini dengan tangan terbuka, tetapi Duniya sebagai anak-anak justru mampu. Kehamilan orang gila ini tidak membuat Duniya kehilangan sikap baiknya yang mudah menerima kehadiran orang asing, ia tetap berusaha menerima bayi yang ada dalam kandungan orang gila itu.
”Kalau kamu punya adik bayi, aku bersedia jadi kakaknya. Aku terus memikirkannya sejak kemarin. Kalau adik bayi tidak ada yang suka maka aku akan suka. Kalau begitu bagaimana?” tanyaku kembali sambil memerhatikan si gila yang tengah bersusah payah menggigiti kain bajunya hingga cabik. (Hlm: 116)

Kutipan di atas menceritakan bahwa Duniya yang sedang dalam kondisi bingung karena kehamilan orang gila itu tetap berusaha menerima bayi yang akan lahir dari si gila. Ketidakmengertian dan kebingungan yang dirasakan tidak membuatnya sulit menerima anak dalam kandungan si gila. Sikap mudah menerima kehadiran orang asing semakin terlihat ketika Duniya mengatakan bahwa ia akan menerima si bayi menjadia adiknya meskipu kelak orang-orang tidak mau.


b. Kepribadian Introverts
1) Kurang Pandai
Tokoh Duniya memiliki beberapa sisi sikap introverts, meskipun tidak sedominan sisi ekstrovertsnya. Salah satu sikap yang menjadi ciri dan biasa dimiliki oleh seseorang yang berkepribadian introverts adalah kurang pandai. Duniya dinyatakan kurang pandai saat tidak dapat mengalikan bilangan pada pelajaran matematika. Semua teman sekelasnya dapat mengerjakan, tetapi dia sama sekali tidak mampu, sehingga guru menganggapnya sebagai anak yang bodoh, seperti dalam kutipan berikut.
Kata guruku, aku bodoh. Karena, aku tidak bisa mengalikan angka dalam pelajaran Matematika. Kalau sekedar mengalikan satu sampai sepuluh, aku sudah hafal di luar kepala. Tapi, kalau disuruh mengalikan 23X15 aku tidak tahu caranya...
...Aku pun mendekat dan bertanya padanya, agar aku bisa mengalikan besaran yang terdiri dari dua angka.
”Masa yang begitu saja kamu tidak bisa!” bentak guruku ketika aku bertanya.
Aku takut dan kembali duduk... (Hlm: 7)

Pada bagian selanjutnya dijelaskan bahwa setelah bersemangat belajar dan duduk di kelas empat, Duniya mampu mendapatkan peringkat tiga. Akan tetapi, dalam kutipan di atas jelas sekali bahwa ia tidak mampu mengerjakan soal yang sebenarnya tidak terlalu sulit untuk anak seusianya. Pada saat itu Duniya tidak mampu mengerjakan soal Matematika karena belum jelas tentang materi yang diberikan gurunya di kelas. Duniya berusaha mendapatkan penjelasan dari guru,namun guru menolak, akibatnya Duniya tidak mempunyai kesempatan untuk memahami materi tersebut. Akan tetapi, Duniya sesungguhnya adalah anak yang pandai, dibuktikan dengan peringkat yang didapatnya setelah ia duduk di kelas empat.
2) Pendendam
Tokoh Duniya memiliki sikap pendendam yang diakibatkan karena rasa benci dan sakit yang selalu ditahannya. Seorang anak mempunyai memori yang kuat terhadap hal yang dialaminya, begitu juga dengan Duniya. Oleh karena itu, ketika mengalami sakit fisik dan sakit hati yang teramat sangat, ia menjadi sulit memaafkan orang yang membuatnya sakit, yaitu sang ayah. Sikap pendendam yang dimiliki oleh Duniya terlihat dalam kutipan berikut.
Setelah temanku pergi, aku segera lari ke kamar mandi lalu menangis sambil menggigit bibirku. Sakit akibat pukulan bukan alang kepalang, tapi hatiku yang mengecil jauh lebih sakit.
Aku pun berhenti bicara pada ayah selama tiga hari, dan menutup pintu hatiku untuk ayah selamanya. (Hlm: 12)

Duniya tidak dapat menerima perlakuan ayahnya yang sudah sangat keterlaluan. Sudah tidak tahan terhadap perlakuan sang ayah, maka tumbuh rasa dendam di hatinya dan ia berniat untuk menutup pintu hatinya untuk ayah selamanya. Pikiran ingin menutup hati untuk selamanya merupakan ciri seorang yang pendendam. Sikap ini tumbuh karena Duniya sering dipukuli ayahnya, tetapi hal itu masih dapat ditahan, sampai akhirnya penyiksaan itu dilakukan di depan orang lain. Rasa sakit hati karena malulah yang tidak dapat ditahan Duniya hingga ia sulit utnuk memaafkan ayahnya. Selanjutnya anak ini tumbuh dalam rasa dendam terhadap sang ayah.
Duniya dalam novel ini adalah seorang anak yang berkepribadian ekstroverts, sehingga perlakuan kasar dari sang ayah dapat ia maafkan. Duniya tetap menjadi anak yang patuh terhadap orang tua, dapat memaafkan kesalahan dan sikap kasar orang tuanya. Pada awalnya Duniya berniat untuk menutup pintu maaf bagi ayahnya, akan tetapi kepribadian ekstroverts yang dia miliki membuatnya mampu berinteraksi baik dengan sang ayah dan hubungan antara keduanya kembali membaik. Duniya menyadari bahwa sang ayah adalah orang yang telah membuatnya ada di dunia dan pernah memberikan kasih sayang kepadanya.
3) Senang Berkhayal
Berbagai guncangan dan kekerasan hidup yang dialami membuat Duniya tumbuh menjadi anak yang suka berkhayal. Yowero sering menyaksikan dan bahkan mengalami peristiwa kekerasan yang dilakukan orang dewasa di sekitarnya. Hal itulah yang menyebabkan anak ini menjadi sering berkhayal, baik tentang kehidupan yang damai tanpa kekerasan atau tentang dunia yang istimewa seperti terdapat dalam kutipan berikut.
Sekali ini aku menemukan sebuah cincin perak dengan lambang tengkorak. Aku membayangkan sebuah kumpulan penyihir yang lewat dan menjatuhkanlambang sihir mereka. Aku menganggapnya cincin pembawa keberuntungan dan memakainya di jari manisku...
Ketika cincin itu kupakai, aku merasa seakan ada perasaan jaya di dalam dada. Aku merasa bahwa tidak akan ada hal buruk yang akan menimpaku, selama cincin tersebut aku kenakan. Semua orang tidak akan menyulitkanku. Ibu tidak akan memukulku, apalagi ayah, tentu dia akan berlaku baik padaku. (Hlm: 17)

Kutipan di atas adalah suasana ketika Duniya menemukan cincin di tempat sampah. Dia berkhayal bahwa cincin itu berasal dari sekumpulan penyihir yang melintas di atas tempat sampah. Khayalan Duniya tidak hanya berhenti sampai di situ, ia juga berkhayal sekaligus berharap terjadi perubahan dalam hidupnya. Ia berkhayal setelah memakai cincin itu hidupnya akan berubah menjadi lebih indah, tidak akan ada kesialan dan penyiksaan lagi.
Sikap senang berkhayal yang dimiliki Duniya hilang setelah ia menyadari bahwa khayalannya tidak masuk akal dan justru membuatnya sial. Ketika menemukan sebuah cincin Duniya berkhayal bahwa itu adalah cincin ajaib yang mampu melindunginya dari berbagai musibah. Duniya kemudian kembali berpikir realistis setelah ia menyadari bahwa cincin yang ia pakai hanyalah cincin biasa yang tidak mampu memberikan perlindungan kepadanya. Duniya kembali menjadi orang yang realistis sebagai bukti bahwa ia adalah seorang anak dengan tipe kepribadian ekstroverts.
4) Penakut
Duniya tumbuh menjadi seorang anak yang sering merasa ketakutan. Rasa takut ini disebabkan sering mengalami penyiksaan dari orang tua. Kutipan di bawah ini menunjukkan bahwa Duniya selalu ketakutan dan teringat terhadap sikap kasar sang ayah.Duniya merekam dalam ingatannya bahwa sikap kasar sang ayah sangat menyakitinya sehingga ia sering merasa ketakutan. Hati anak ini terguncang karena arus kesadarannya berjalan mengingat kesedihan itu, maka muncullah sikap penakut.
Sebenarnya sejak penghuni tempai itu muncul, aku selalu merasa takut untuk berjalan ke luar kompleks. Aku takut mendadak orang gila tersebut menyerangku, lalu mengoyak dagingku. Bisa saja dia mencakar dan menendangku.... (Hlm: 31)

Suara Ayah mengeras, aku takut pada kemarahan Ayah. Jadi, aku mengangguk menurut tanpa bertanya kembali. Ayah tampak puas akan hasil pembicaraan tersebut, mengangguk-angguk sambil menyungging senyum.... (Hlm: 45)

Pada kutipan pertama disebutkan bahwa Duniya takut terhadap orang gila, ia takut jika orang gila itu akan menyakitinya, padahal belum ada bukti bahwa orang gila itu senang menyakiti. hal itu adalah bukti bahwa tokoh ini mempunyai sifat penakut. Bukti selanjutnya terlihat pada kutipan kedua. Duniya sangat takut pada ayahnya, sehingga pada saat sang ayah menasehati agar ia tidak bergaul lagi dengan Sihar, Dunia langsung saja mengiyakan tanpa protes.Seharusnya ia berusaha mempertahankan Sihar, karena sebenarnya ia sangat senang bermain dengan Sihar. Sikapnya yang hanya mengangguk karena terbayang kemarahan sang ayah adalah bukti penguat bahwa Duniya adalah penakut.
Rasa takut yang dimiliki Duniya perlahan hilang karena ia mampu berinteraksi baik dengan dunia luar. Dalam novel dikisahkan ia mampu mengatasi rasa takutnya terhadap si gila, bahkan menjadi sangat menyukai si gila. Hal ini adalah bukti bahwa sebenarnya Duniya mampu berinteraksi dengan si gila, hanya membutuhkan waktu yang agak lama. Pada cerita selanjutnya Duniya mampu mengatasi ketakutan dan dendam terhadap ayahnya. Dendam dan niat untuk menutup hati bagi sang ayah
2. Faktor yang mempengaruhi kepribadian tokoh anak (Duniya) dalam novel Dunia Duniya ditinjau dari teori psikologi
Kepribadian seseorang dipengaruhi oleh faktor dari dalam dan luar yang terjadi dalam setiap masa perkembangan. Kepribadian tokoh cerita juga ditampilkan berdasarkan faktor dalam dan luar yang terjadi pada diri tokoh yang terjadi dalam setiap masa perkembangannya. Faktor dalam membentuk seorang pribadi dari dalam, bersifat genetis dan dapat terjadi pada jasmani maupun sifat.
a. Faktor Dalam
1) Tingkat Kecerdasan Rendah
Duniya tumbuh menjadi anak yang sering dianggap bodoh. Hal tersebut timbul akibat tingkat kecerdasannya yang memang rendah. Seorang yang memiliki tingkat kecerdasan yang rendah akan sulit untuk memahami hal baru. Hal baru dalam hal ini dapat dicontohkan dalam hal menerima pelajaran. Hal itu nampak dalam kutipan di bawah ini.
Kata guruku, aku bodoh. Karena, aku tidak bisa mengalikan angka dalam pelajaran Matematika. Kalau sekedar mengalikan satu sampai sepuluh, aku sudah hafal di luar kepala. Tapi, kalau disuruh mengalikan 23X15 aku tidak tahu caranya. (Hlm: 7)

Kutipan di atas menjelaskan bahwa guru di sekolah mengatakan Duniya bodoh.Hal itu dikarenakan Duniya tidak mampu mengalikan angka dalam pelajaran matematika. Tingkat kecerdasan yang dimiliki seseorang merupakan faktor pembentuk kepribadian yang berasal dari dalam, dan biasanya bersifat genetik. Faktor dalam ini menyulitkan Duniya dalam sekolahnya, ia bahkan sampai hampir tidak naik kelas, seandainya saja sang paman tidak melakukan protes ke sekolah.
b. Faktor Luar
1) Sikap Guru yang Masa Bodoh Terhadapnya
Guru memiliki peran penting dalam pembentukan karakter seorang siswa. Idealnya guru harus menyayangi siswanya, memberikan contoh yang baik, serta menjadi pelingdung pada saat siswanya mendapat kesulitan. Akan tetapi, hal tersebut tidak ditemui oleh Duniya, ia justru memperoleh perlakuan yang tidak menyenangkan dari para guru di sekolahnya. Pada saat ia memperoleh kesulitan dan berharap sang guru membantu, ia justru mendapat perlakuan masa bodoh dari guru. Hal itu nampak dalam beberapa kutipan di bawah ini.
Kupikir, setelah mendapat nilai nol, guruku akan mengajari bagaimana cara mengalikan soal yang ada di papan tulis itu. Tapi, mendadak topik Matematika malah berubah dan soal itu tidak dibahas sama sekali. Guruku telah melupakan ada seorang di antara 30 anak yang mengisi kelas 3B, yang tidak bisa Matematika. Mengapa guruku tidak peduli. (Hlm: 9)

Setiap bel berbunyi, semua anak masuk ke kelas masing-masing. Lalu, kami serentak membuka Al-Qur’an dan membacanya rame-rame. Akibatnya ada yang membaca secara benar dan ada yang tidak – aku salah satunya. Cara baca Al-Qur’anku salah. Aku membaca tanpa mengindahkan peraturan Tajwid. Cara baca Al-Qur’anku asal labrak dan Ustazah tidak peduli, yang penting kami melek huruf Arab – urusan bagaimana titik koma, intonasi, tinggi, rendah...wallahualam. (Hlm: 14)

...Salah seorang guru menoleh ke arahku, lalu bertanya ada apa. Lalu, aku bilang kakiku luka. Guru yang bertanya padaku mengibaskan tangannya dan segera kembali sibuk pada makanannya, aku dibiarkan berdiri dalam keadaan darah masih mengucur di kaki. Aku bingung, dan bertanya dalam hati, tidakkah mereka peduli padaku atau melihat kakiku.... (Hlm: 90)

Anak adalah makhuk yang sensitif terhadap hal yang ada di sekitarnya. Mereka selalu memberikan respon, baik yang positif ataupun negatif. Segala seuatu yang terjadi dan dialami akan membentuk kepribadiannya kelak. Duniya mendapatkan perlakuan yang kurang dan bahkan tidak menyenangkan dari gurunya di sekolah,sosok yang seharusnya mampu menjadi teladan dan pelindung baginya. Ini adalah faktor pembentuk yang berasal dari luar.
Dalam kutipan pertama, Duniya diacuhkan pada saat tidak jelas dengan pelajaran. Hal ini membuatnya semakin tidak dapat mengejar ketinggalan pelajaran, akibatnya ia tidak naik kelas. Ketidakjelasannya dengan pelajaran semakin bertambah ketika ustazah di madrasah tidak peduli saat ia tidak membaca Al-Qur’an dengan benar. Sikap acuh dalam kutipan kedua membuat Duniya tidak mampu membaca Al-Qur’an hingga SMP. Guru seharusnya memperhatikan dan kemudian memperbaiki kesalahan siswanya, sehingga membentuk kepribadian positif pada siswa.
Kutipan ketiga membuktikan sikap masa bodoh guru saat Duniya terluka. Dalam kutipan disebutkan bahwa seorang guru justru mengibaskan tangannya saat melihat Duniya yang sudah berdiri di hadapannya dalam keadaan terluka. Sikap guru yang demikian ini membuat Duniya menjadi kehilangan rasa simpatinya terhadap guru. Ia merasakan ketidakadilan sedang menimpa dirinya, hal ini turut membangun kepribadiannya, membentuk pola pikirnya bahwa sering ada ketidakadilan terhadap siswa.
2) Sikap Orang Tua yang Kasar
Orang tua Duniya sering bersikap kasar dan menyakitinya jika ia berbuat hal yang membuat hati orang tuanya tidak senang. Duniya yang telah tumbuh menjadi anak terpaksa harus menerima perlakuan orang tuanya yang kasar. Sikap orang tua yang terlalu kasar ini membuat Duniya sering merasa ketakutan, sampai akhirnya ia berniat untuk tidak memaafkan ayahnya untuk selamanya. Orang tua memang wajib mendidik anaknya, tetapi bukan dengan cara menyiksa seperti yang terlihat dalam kutipan di bawah ini.

Aku menggelang dan mendadak Ayah menghajarku dengan buku catatanku. Mula-mula buku itu menampar kepalaku, lantas dia melempar catatanku dengan keras ke arah kepala. Tidak puas telah memukulku dengan buku, Ayah pun mengambil penggaris kayu untuk mengukur kain dan memukulkannya pada kepalaku. (Hlm: 9)

Mamaku adalah perempuan pendiam dengan kata-kata yang nyaris selalu sinis. Padahal beliau begitu cantik, tapi aku selalu takut padanya karena bila tidak menurut dia akan memukulku dengan sapu lidi. Ayah lebih-lebih lagi, bila aku melawan maka ujung gesper miliknya akan melayang di tubuhku. Biasanya bekas tersebut bergurat-gurat merah dan biru di kakiku. (Hlm: 10)

Aku mengangguk untuk kedua kalinya, lalu Mama menjadi murka, lantas melayangkan cubitan yang terkenal pedih pada tanganku dan aku merasakan bibirku saling berusaha untuk menggigit agar tidak berteriak ’auw’. Hukuman berteriak akan dua kali lipat dari cubitan itu. (Hlm: 36)

Ketiga kutipan di atas adalah bukti bahwa Duniya lahir dan dibesarkan oleh orang tua yang sering bersikap kasar padanya. Rumah dan orang tua adalah faktor pembentuk kepribadian yang sangat dominan bagi seorang anak. Orang tua adalah manusia pertama yang mengiringi perkembangan seorang anak. Kekerasan dan penyiksaan yang selalu di tawarkan oleh orang tua membuat Duniya tumbuh menjadi anak yang penakut dan membenci orang tuanya.
Kutipan pertama adalah uraian tentang penyiksaan yang dilakukan ayah pada saat Duniya mendapatkan nilai nol karena tidak mampu mengerjakan soal Matematika. Seharusnya sebagai ayah, hal itu tidak boleh dilakukan, ketika anak mendapatkan nilai nol yang harus dilakukan adalah memberikan bimbingan. Hal itu tidak di alami Duniya, tidak ada bimbingan atau pengarahan secara bijak, ia justru harus berhadapan dengan tamparan dan pukulan.
Sikap kasar tidak hanya dilakukan oleh ayahnya, tetapi juga oleh si ibu yang seharusnya melindunginya dengan kasih. Duniya juga sering mendapatkan perlakuan kasar dari si ibu. Dalam kutipan kedua disebutkan bahwa ibunya tidak segan-segan memukulnya dengan sapu lidi hingga membekas serupa guratan merah. Ketika mendapati Duniya bermain bersama Sihar, sang ibu kembali menyiksa Duniya dengan melayangkan cubitan yang membuat Duniya merasa kesakitan. Akan tetapi, perlakuan dari si ibu membuat Duniya harus mampu menahan rasa sakit, karena jika ia sampai berteriak hukuman akan semakin parah. Perlakuan kasar dari kedua orang tua selalu terjadi dan sangat berdampak pada kepribadian Duniya.
3) Selalu Ditekan dan Dipaksa
Duniya sering mengalami kekerasan menimpa dirinya, selain itu ia juga sering ditekan dan dipaksa. Sebagai seorang anak, ia dianggap belum mampu menentukan hal yang baik bagi hidupnya, akibatnya ia menjadi sering dipaksa untuk melaksanakan sesuatu yang seringkali membuatnya tidak nyaman. Dua kutipan di bawah ini adalah bukti bahwa ia sering dipaksa dan ditekan oleh sang ayah untuk melakukan atau mematuhi keputusan tertentu.

Setelah puas memukuli, memarahi, serta mencaciku, aku diizinkan ke kamar. Sambil berkata, bahwa mulai besok aku akan mulai belajar ekstra dan tidak ada lagi drama radio yang bisa aku dengar di sore hari ataupun TV yang ingin aku tonton. (Hlm: 10)

Suara Ayah mengeras, aku takut pada kemarahan Ayah. Jadi, aku mengangguk menurut tanpa bertanya kembali. Ayah tampak puas akan hasil pembicaraan tersebut, mengangguk-angguk sambil menyungging senyum.... (Hlm: 45)

Duniya mendapatkan larangan untuk mendengarkan drama radio karena nilai sekolahnya jelek. Sebenarnya hal itu tidak perlu dilakukan, seharusnya orang tua mencarikan solusi yang lebih bijaksana agar Duniya tetap dapat mendengarkan drama radio tanpa mengganggu waktu belajarnya. Tentu saja hal ini membuat Duniya merasa sedih, tetapi karena ia merasa ditekan dan dipaksa, ia mematuhi. Kepatuhan yang terpaksa kembali dialami Duniya ketia ia dilarang bermain dengan Sihar. Duniya sebenarnya ingin menolak, tetapi tekanan dan rasa takut membuatnya mengurungkan keinginan itu.
4) Tumbuh dalam Lingkungan yang Penuh dengan Kekerasan
Faktor luar yang mempengaruhi seseorang juga ditentukan oleh lingkungan tempat tinggal. Lingkungan yang kondusif akan membuat seorang anak tumbuh menjadi pribadi yang baik. Tokoh anak dalam novel ini diceritakan tumbuh dalam lingkungan yang sama sekali tidak baik, ia tumbuh di lingkungan yang penuh dengan kekerasan. Hal ini tentu saja membuatnya tumbuh menjadi pribadi yang tidak baik. Ketidakbaikan itu misalnya si anak menjadi penakut dan pendendam.
...Bila Ibu Upik masih tetap nyinyir, dia tidak segan-segan menggunakan goloknya. Benar-benar heboh sekali karena ternyata Ibu Upik pun tidak mau kalah. Dia keluar sambil membawa pisau. Perang mulut dan ancaman pun berseliweran di udara.
Aku dan teman-temanku menonton dengan berdebar-debar. Menunggu kira-kira apa yang akan terjadi dalam pertengkaran tersebut. Lalu aku melihat Ayah keluar bersama bapak-bapak tetangga, mereka mencoba mengahi pertengkaran. Nenek Fardi semakin garang dan Ayah pun tampak bersusah payah menenangkan. (Hlm: 10)

Waktu itu aku mulai paham bahwa Mutasor pun sama denganku. Kami adalah anak-anak yang tumbuh di bawah garis keras ayah kami. (Hlm: 64)

Aku tidak begitu memahami tentang isi dunia ataupun segala macam prasangka. tapi sejak melihat raut wajah Sihar yang lebam dan mendengar cerita Mutasor tentang Sihar, mau tidak mau hatiku mulai mempertanyakan banyak hal. Mengapa hal-hal seperti itu terjadi pada kami?.... (Hlm: 106)

Kutipan pertama menceritakan bahwa Duniya menyaksikan kekerasan, yaitu perkelahian antara Nenek Fardi dengan Ibu Upik. Dalam kutipan di sebutkan bahwa selama menyaksikan perkelahian itu, banyak hal yang tidak ia mengerti dan membuatnya ketakutan. Ketakutan pada saat melihat perkelahian ini membawa dampak buruk, Duniya tumbuh menjadi pribadi yang penakut. Ia juga dendam dengan berbagai macam kekerasan, sulit untuk memaafkan.
Kutipan kedua dan ketiga adalah faktor pembentu kepribadian dari lingkungan, yaitu situasi yang selalu menyulitkan anak-anak. Dalam kutipan itu disebutkan bahwa anak-anak sering menjadi korban kekerasan orang tuanya. Mutasor dan Sihar adalah teman sepermainan Duniya yang mengalami nasib sama dengannya. Konsepnya tentang penyiksaan orang tua terhadap anaknya semakin kuat, dan ia semakin yakin untuk menutup pintu maafnya bagi sang ayah.
5) Menyaksikan Kecurangan
Kejujuran adalah sesuatu yang harus ditanamkan sejak kecil. Penanaman kejujuran akan lebih maksimal jika dilaksanakan dengan pemberian contoh. Sejak kecil Duniya justru mendapati berbagai kecurangan yang dilakukan oleh orang yang seharusnya dapat menadi contoh baginya. Dalam kutipan di bawah ini di sebutkan ada dua kecurangan, pertama yang dilakukan ustazahnya di madrasah, dan kedua yang dilakukan oleh guru kelasnya.

”Kelihatannya Pak haji Abdul minta tolong supaya anaknya dijaga. Kalau tidak salah malah kasih uang sama Bu Aima.”
”Oooh.”
Aku meletakkan tumpukan buku tersebut di atas meja guru, sambil merasakan sebuah goresan panjang melukai ulu hatiku. (Hlm: 16)

Setelahnya aku mengetahui kalau guruku di kelas tiga tidak menyukaiku karena menganggap aku tidak pernah serius belajar, selalu bermain, dan menjawab soal tidak sesuai metode. Tapi, ketika aku di kelas empat, pada cawu pertama aku berhasil meraih rangking tiga, dengan nilai rata-rata delapan. Itu terjadi ketika kepala sekolah yang lama diganti dengan kepala sekolah yang baru. (Hlm: 74)

Duniya merasa sangat terpukul pada saat mengetahui Ustazah Aima melakukakan kecurangan dengan menerima suap dari orang tua I’i. Ustazah Aima tidak berlaku adil, tidak memberi hukuman pada I’i ketika ia bersalah, akhirnya Duniya mengetahui bahwa sikap itu ada karena sebuah uang suap. Kecurangan yang dilakukan Ustazah adalah sesuatu yang tidak pantas dilakukan oleh seorang Ustazah, dan lebih tidak pantas lagi diketahui oleh anak sekecil Duniya. Hal semacam ini sangat berpengaruh terhadap kepribadian seseorang.
Kecurangan selanjutnya yang ia lihat adalah kecurangan yang dilakukan oleh guru kelasnya. Duniya hampir saja tidak naik kelas hanya karena si guru tidak menyukainya. Ini merupakan kecurangan yang sangat merugikan bagi murid. Sikap seperti ini tidak seharusnya dilakukan oleh seorang guru, sikap ini jauh dari sebutan profesional. Duniya mengetahui hal ini setelah duduk di kelas empat, kecurangan semacam ini memberikan dampak buruk, Duniya kemudian mempunyai konsep bahwa orang dewasa sering melakukan kecurangan. Sebuah konsep yang salah akibat seringnya menyaksikan kecurangan.
3. Konflik yang dialami tokoh anak (Duniya) dalam novel Dunia Duniya karya Dewi Sartika
Konflik dalam sebuah karya sastra terjadi dalam diri tokoh. Konflik yang terjadi dalam hati atau jiwa seorang tokoh cerita dan merupakan permasalahan intern adalah konflik internal, sedangkan permasalahan yang terjadi antara seorang tokoh dengan sesuatu yang di luar dirinya baik lingkungan alam maupun manusia adalah konflik eksternal.
Konflik yang terjadi dalam suatu karya sastra membuat suatu karya menjadi lebih menarik. Konflik yang dialami tokoh anak (Duniya) dalam novel Dunia Duniya karya Dewi Sartika yaitu konflik internal dan eksternal. Berikut adalah pembahasan konflik yang dialami Duniya sebagai tokoh anak.
a. Konflik Internal yang Dialami Tokoh Duniya
Konflik internal merupakan permasalahan intern, terjadi dalam hati atau jiwa tokoh cerita. Konflik internal dalam pembahasan ini dideskripsikan sesuai dengan kondisi jiwa atau perasaan tokoh. Pendeskripsian ini dilakukan untuk memperjelas konflik internal tokoh anak yang bernama Duniya. Tokoh Duniya dalam novel Dunia Duniya karya Dewi Sartika mengalami konflik internal sebagai berikut.
1) Kesedihan yang Mendalam
Berbagai kejadian yang berkaitan dengan kekerasan, penganiayaan, atau perkelahian merupakan penyebab utama konflik batin berupa kesedihan yang mendalam. Duniya mengalami kesedihan yang seringkali memicu kekacauan dalam hatinya, seperti pada kutipan berikut.

”Kelihatannya Pak haji Abdul minta tolong supaya anaknya dijaga. Kalau tidak salah malah kasih uang sama Bu Aima.”
”Oooh.”
Aku meletakkan tumpukan buku tersebut di atas meja guru, sambil merasakan sebuah goresan panjang melukai ulu hatiku. (Hlm: 16)

Sejak kedatangan Sihar di musim capung, dia tidak pernah muncul lagi di kompleks. Aku sedih, seperti mengucap selamat tinggal tanpa kata-kata. Tapi, kesedihanku bertambah ketika aku menemukan sesuatu terjadi pada tubuhku. (Hlm: 51)

Kesedihan yang menimpa Duniya pada kutipan di atas terjadi karena melihat kecurangan yang dilakukan oleh guru dan karena kehilangan Sihar yang sudah beberapa waktu tidak datang ke kompleks. Dituliskan dalam kutipan pertama bahwa Duniya merasakan ada sebuah goresan panjang melukai hatinya setelah mengetahui bahwa Ustazah Aima menerima suap dan melindungi I’i yang sering berbuat salah. Kesedihan itulah yang membuatnya kehilangan simpatik terhadap Ustazah Aima.
Kesedihan yang lebih parah dirasakan pada saat Sihar tidak pernah lagi datang ke kompleks. Gejolak batin terus terjadi pada diri Duniya. Pada kutipan kedua, disebutkan bahwa kesedihan Duniya selain disebabkan kepergian Sihar juga disebabkan adanya perubahan pada tubuhnya. Duniya sedih ketika mendapati tanda-tanda kedewasaan mulai muncul pada dirinya. Kesedihan itu ia rasakan sangat menyakitkan, ia mengalami konflik batin, kenyataan yang terjadi tidak seperti keinginan dalam hatinya. Ia menginginkan tetap memiliki fisik anak-anak.
2) Rasa Kesepian
Keadaan Dini yang sedang sakit membuat Duniya menjadi sedih. Ia merasa kesepian karena sahabat yang biasanya selalu menemani, tidak dapat masuk hari itu. Kesepian yang menimpa membuat Duniya merasakan sendiri dan asing di lingkungan yang sebenarnya sudah sangat ia kenal. Rasa kesepian yang ada dalam dirinya adalah sebuah konflik batin karena ia merasa tak mampu melakukan hal yang diinginkan tanpa Dini sahabatnya. Konflik batin berupa rasa kesepian yang terjadi dalam diri Duniya terdapat dalam dua kutipan di bawah ini.

Dan ketika sampai di madrasah pun, aku merasakan sentuhan kesepian yang sama. Aku merasa tidak ada anak yang bisa aku ajak ke luar dari pagar sekolah dan menyelinap untuk jajan di luar lingkungan sekolah. Semua teman sekelasku tidak ada yang setuju dengan ideku. (Hlm: 23)

Bagiku di madrasah tanpa Dini, seperti berada di dalam labirin yang mendekati neraka. Semua anak punya teman dekatnya masing-masing, dan aku merasa seakan berada di luar lingkaran. Pelajaran jadi masuk separuh sebelum menyesak untuk minta untuk keluar, dan aku seperti tinggal di dalam ruang hampa tanpa sahabat baikku. (Hlm: 24)

Konflik batin pada kutipan di atas terjadi saat Duniya kesepian tanpa kehadiran Dini di madrasah. Duniya merasakan ada hal ganjil yang telah terjadi dalam dirinya, rasa inilah yang kemudian bergejolak dalam dirinya dan menyebabkannya kesepian. Rasa kesepian itu membuatnya tidak dapat tenang dan menerima pelajaran secara maksimal. Duniya sedih, tidak ada teman yang bersedia menemaninya untuk bermain di luar sekolah, kesepian semakin ia rasakan saat itu. Ia merasa sendiri, tidak mempunyai teman dekat seperti teman-temannya. Kesepian pada kutipan kedua digambarkan dengan merasa tinggal di dalam ruang hampa.
3) Dihantui Rasa Ketakutan Terhadap Sikap Kasar Orang Tua
Ketakutan adalah hal yang sering dialami Duniya dan merupakan konflik batin yang menyiksanya. Ketakutan itu disebabkan oleh sikap kasar dan penyiksaan dari kedua orang tuanya. Kutipan di bawah ini adalah bukti konflik batin berupa rasa takut yang disebabkan hal tersebut. Duniya yang masih kecil harus mengalami berbagai penganiayaan yang terjadi dalam keluarganya sehingga ia sering mengalami rasa takut.

Sihar mengangguk. Aku merasa seperti ada segayung es diguyur ke dalam hatiku. Aku merasa dadaku berubah mendingin dan bulu kudukku meremang. Aku ingan Ayah dan ujung gesper yang berkilau menyeringai. (Hlm: 64)

Aku terpekur ketakutan. Hukuman apa kiranya yang menanti kalau raporku merah. Pukulan? Lidi? Ujung gesper? Tamparan atau cubitan Mama? Aku merasa tubuhku mengejang, aku benar-benar kalut. Ayah tampak kacau dengan gemetar tangannya meraih rokok…. (Hlm: 66)

Kutipan pertama membuktikan bahwa Duniya mengalami ketakutan saat mengetahui bahwa Mutasor membakar rumah karena kacau pada saat dimarahi ayahnya. Duniya ketakutan karena teringat ujung gesper ayahnya yang sering melukainya. Usia yang masih kecil dan seringnya penyiksaan yang dialami menyebabkan ketakutan itu semakin tinggi. Seorang yang mengalami rasa takut, itu berarti ada gejolak batin dalam dirinya, terjadi konflik dalam diri.
Kutipan kedua menjelaskan bahwa Duniya mengalami ketakutan saat ia tidak naik kelas. Ketakutan itu ditunjukkan dengan imajinasinya tentang hukuman yang akan dia terima, disebutkan berupa pukulan, lidi, atau ujung gesper yang akan melukai tubuh mungilnya. Diungkapkan bahwa penyiksaan sang ayah mendatangkan rasa takut yang luar biasa. Rasa takut ini selanjutnya mempengaruhi kondisi kejiwaan Duniya. Ada gejolak batin dalam diri anak ini, antara keinginan untuk kabur dengan rasa takut sehingga terjadi konflik batin berupa rasa takut.


4) Kecewa
Kejadian yang membuat Duniya kecewa adalah saat ia tidak diijinkan untuk memelihara anak anjing yang sangat ia sukai. Kekecewaan ini menjadi sebuah konflik dalam dirinya karena tidak bisa menerima peraturan dari ibunya. Kejadian yang memacu konflik batin itu disebabkan oleh kekecewaan tidak dapat memelihara anak anjing. Kekecewaan selanjutnya dialami karena kompleks tempat tinggalnya akan digusur dan ia harus kehilangan banyak teman. Dua kutipan dibawah ini adalah bukti rasa kecewa yang dialaminya.

Aku masih menunduk kecewa. Sebenarnya aku ingin memelihara anak anjing tersebut, tapi tidak berani melawan perintah Mama. Kalau Mama marah, aku bisa tersiksa dan aku takut. (Hlm: 82)

Aku sungguh sangat menyukai kompleks ini, dan ketika memikirkan bahwa kebersamaan yang menyenangkan bersama teman-temanku ini akhirnya harus usai, aku merasakan betapa hal itu tidak adil. (Hlm: 130)

Kutipan pertama menunjukkan bahwa Duniya tidak dapat menerima kenyataan bahwa ia tidak diijinkan untuk memelihara anak anjing yang ditemukan. Hati Duniya kecewa, diungkapkan dengan menunduk kecewa. Kekecewaan itu semakin terasa saat ia ketakutan bahwa ibunya akan menyiksanya jika ia tetap nekat memelihara anak anjing tersebut. Goresan kekecewaan yang cukup dalam.
Kutipan kedua adalah bukti rasa kecewa Duniya terhadap penggusuran kompleks. Kekecewaan itu menjadi konflik yang bergejolak dalam dirinya, ia akan kehilangan tempat yang menyisakan memori indah dalam masa kana-kanaknya. Kekecewaan yang sangat itu membuatnya berpikir bahwa penggusuran itu tidak adil baginya. Penggusuran itu hanya akan menghilangkan kebersamaan dengan teman-temannya.
5) Kebingungan yang Menyiksa
Rasa bingung membuat seseorang menjadi tersiksa, pada saat itulah orang tersebut mengalami konflik batin. Ia yang masih anak-anak harus mencerna hal yang sama sekali belum dimengerti. Duniya merasa sangat kebingungan saat mengetahui Si Gila hamil. Nalar bocahnya belum mampu mencerna hal semacam ini. Kebingungan itu nampak dalam kutipan berikut.
Aku berusaha semampuku untuk mencerna setiap kerumitan yang hadir dalam kepalaku. Bagiku, seseorang bisa punya bayi ketika dia punya suami. Tapi Si Gila tidak memiliki suami, lalu dari manakah kehamilannya datang? Keruwetanku semakin membuatku tersiksa. Ada misteri yang tidak bisa aku jawab dan aku pahami dengan pemikiranku yang sederhana. (Hlm: 115)

Duniya belum dapat mencerna permasalahan yang ia hadapi sehingga timbul rasa bingung dalam hatinya. Menurut nalar bocahnya, seseorang dapat hamil ketika telah menikah. Oleh karena itu, pada saat mengetahui Si Gila hamil tanpa menikah, ia menjadi sangat kebingungan. Kebingungan yang menjadi konflik dalam dirinya dan begitu menyiksa itu digambarkan dengan keruwetan yang semakin menyiksa. Pemikirannya yang masih sederhana tentu saja tidak dapat memahami permasalahan itu.
b. Konflik Eksternal yang Dialami Tokoh Duniya
Konflik eksternal merupakan permasalahan yang terjadi antara seorang tokoh dengan sesuatu yang diluar dirinya baik lingkungan alam maupun manusia. Konflik eksternal dalam pembahasan ini dideskripsikan sesuai dengan lawan yang dihadapi oleh tokoh Duniya. Pendeskripsian ini dilakukan untuk memperjelas konflik tokoh anak yang bernama Duniya dengan tokoh yang lain
1) Konflik Duniya dengan Guru
Duniya sebenarnya memiliki rasa simpati yang tinggi terhadap gurunya, tetapi setelah mendapatkan perlakuan yang tidak adil, tumbuh permasalahan anatar dirinya dengan guru. Sikap guru yang disebutkan dalam kutipan berikut adalah bukti bahwa gurulah yang memacu terjadinya konflik dengan Duniya.
…Aku pun mendekat dan bertanya padanya, cara agar aku bisa mengalikan besaran yang terdiri dari dua angka.
“Masa yang begitu saja kamu tidak bisa!” bentak guruku ketika aku bertanya.
Aku takut dan kembali duduk. (Hlm: 7)

...Salah seorang guru menoleh ke arahku, lalu bertanya ada apa. Lalu, aku bilang kakiku luka. Guru yang bertanya padaku mengibaskan tangannya dan segera kembali sibuk pada makanannya, aku dibiarkan berdiri dalam keadaan darah masih mengucur di kaki. Aku bingung, dan bertanya dalam hati, tidakkah mereka peduli padaku atau melihat kakiku.... (Hlm: 90)

Kutipan pertama adalah bukti bahwa Duniya dibentak oleh guru hingga ia mengalami ketakutan. Pada saat itulah terjadi konflik antara guru dengan Duniya. Guru membentak Duniya karena tidak mampu mengerjakan soal Matematika yang dianggap mudah oleh sang guru. Sikap pemicu konflik seperti ini seharusnya dapat dihindari kalau saja guru tersebut bersdia bersikap lebih manis dengan cara memberi penjelasan kepada Duniya.
Kutipan kedua adalah konflik pada saat Duniya terluka karena jatuh sewaktu bermain. Duniya yang bermaksud meminta pertolongan dari guru untuk mengobati kakinya yang berdarah justru mendapat perlakuan yang lain. Konflik ini memuncak saat Guru bersikap masa bodoh atas kondisi Duniya. Sang guru justru lebih memilih menikmati makanan dari pada menolong siswanya yang sedang terluka.
2) Konflik Duniya dengan Ayah
Konflik dengan ayah terjadi karena sikap ayah yang terlalu kasar terhadap Duniya. Ayah selalu marah jika Duniya melakukan kesalahan, padahal kesalahan yang dilakukan Duniya adalah kenakalan wajar pada anak-anak. Penyiksaan yang dilakukan terhadap Duniya adalah konflik eksternal yang sering dialami dan membuat Duniya ketakutan. Konflik Duniya dengan Ayah terdapat dalam dua kutipan di bawah ini.

Ayah melihat lima soal di buku catatanku, alisnya berkerut-kerut, dan dia memandangku, ”Soal begini, kamu tidak bisa?”
Aku menggelang dan mendadak Ayah menghajarku dengan buku catatanku. Mula-mula buku itu menampar kepalaku, lantas dia melempar catatanku dengan keras ke arah kepala. Tidak puas telah memukulku dengan buku, Ayah pun mengambil penggaris kayu untuuk mengukur kain dan memukulkannya pada kepalaku. (Hlm: 9)

Aku sudah lupa pertengkaran konyol sesama orang tua itu. Sekarang aku dan teman-teman sibuk saling mewarnai gambar yang kami buat dengan pensil dan krayon aneka warna. Mendadak Ayah muncul dari pintu, wajahnya ditekuk garang dan aku pun ditarik dan dipukuli di hadapan teman-temanku. Kali ini tidak tanggung-tanggung, ujung gesper menghantam langsung punggung, pinggang, kaki, dan tanganku. (Hlm: 11)
Kutipan pertama merupakan konflik eksternal yang dialami Duniya dengan ayahnya akibat dia mendapatkan nilai nol. Duniya dipukuli oleh ayahnya karena dianggap sangat bodoh, tidak mampu mengerjakan soal yang dianggap sangat mudah oleh sang ayah. Terlihat dalam kutipan pertama, ayah tidak percaya bahwa Duniya tidak mampu mengerjakan soal tersebut, kemudian tamparan dan pukulan dari ayah mendarat di kepala Duniya. Kutipan kedua menjelaskan bahwa Duniya kembali di pukul setelah menyaksikan pertengkaran warga. Pukulan pada kutipan kedua diceritakan lebih parah karena ayah menggunakan ujung gesper untuk meghajar tubuh mungil Duniya.

3) Konflik Duniya dengan Penjaga Kantin
Penjaga kantin akhirnya mengusir Duniya setelah mengira bahwa Duniya mencuri makanan. Duniya kemudian pergi dari kantin setelah berusaha menjelaskan bahwa ia tidak mencuri karena sudah menyerahkan uang lima ratus rupiah. Konflik eksternal terjadi pada saat Ibu kantin memaki-maki dengan kejam dan Duniya membela diri. Hal itu nampak dalam kutipan di bawah ini.
“Dari tadi aku lihat, kamu makan tanpa bayar!” hardik ibu kantin padaku, matanya melotot dan suaranya nyaring hingga menarik hati anak-anak madrasah lain yang juga tengah jajan.
“Nggak. Aku tadi sudah kasih lima ratus ‘kan!” belaku.
“Jangan bohong. Aku sejak tadi sudah memerhatikan, dasar pencuri!Pergi sana atau aku adukan sama kepala sekolah!” suara ibu kantin semakin keras memaki.

4) Konflik Duniya dengan I’i
Sikap I’i yang kasar terhadap Duniya sering terjadi. Konflik eksternal antara Duniya dengan I’I memuncak pada saat I’i menghajar Duniya, dan Duniya berusaha untuk melawan. Dalam kutipan di bawah ini disebutkan bahwa Duniya sempat beradu tinju dengan I’i dan terluka karena tenaga lawannya jauh lebih kuat. Pada saat demikianlah terjadi konflik anatara keduanya. Tendangan dan pukulan menjadi hal yang sering dirasakan oleh Duniya. Konflik eksternal antara Duniya dengan I’ipara tahanan dibuktikan dalam kutipan berikut.
Sempat juga aku beradu tinju dengan I’I walau aku yang paling menderita karena tinju I’I jauh lebih kuat dari tenagaku. Tanganku menderita sakit akibat pukulan nyasar I’I yang kalap karena aku melawan. Aku juga sempat disepak I’I hingga nyaris mengangis, tapi kutahan perasaan kesal dan keinginan untuk menitikkan air mata. (Hlm: 24)

5) Konflik Duniya dengan Ibu
Duniya mengalami konflik eksternal dengan ibunya ketika sang ibu memberinya hukuman. Seperti konflik yang dialami dengan sang ayah, konflik ini pun terjadi setelah Duniya melakukan kesalahan yang sebenarnya masih dapat dikatakan wajar bagi anak seusianya. Pada kutipan pertama konflik terjadi setelah ibu mengetahui bahwa Duniya bermain di tempat yang dianggap berbahaya bersama Sihar. Ibu lantas marah dan mencubit Duniya tanpa ampun. Pada kutipan kedua konflik terjadi karena sebab yang sama, akan tetapi kemarahan ibu lebih membuat Duniya merasa sakit dan sedih.
Aku mengangguk untuk kedua kalinya, lalu Mama menjadi murka, lantas melayangkan cubitan yang terkenal pedih pada tanganku dan aku merasakan bibirku saling berusaha untuk menggigit agar tidak berteriak ’auw’. Hukuman berteriak akan dua kali lipat dari cubitan itu. (Hlm: 36)

Aku tengah meledakkan bom di dalam kepala Mama. Seketika itu juga Mama menjewer sambil menarikku ke dalam rumah dan membawaku dengan paksa ke sebuah kamar dengan jendela teralis, lalu segera melemparku ke dalamnya. (Hlm: 42)



























BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN

A. Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan pada bab IV, maka dapat diambil beberapa kesimpulan sebagai berikut.
1. Kepribadian tokoh anak (Duniya) dalam novel Dunia Duniya karya Dewi Sartika bertipe ekstroverts, meskipun ia juga memiliki sisi kepribadian introverts. Tokoh ini dikatakan memiliki kepribadian ekstroverts karena sisi ekstroverstsnya lebih dominan, dibuktikan dengan sikap tangguh dan tegar, optimis dan bersemangat, tidak mudah jera, rasa empati yang tinggi, bersedia mengakui kesalahan, dan mampu menerima kehadiran orang asing dengan cepat.
2. Faktor yang mempengaruhi kepribadian tokoh anak dalam novel Kapak ditinjau dari teori psikologi yaitu berupa faktor dalam dan luar yang terjadi dalam setiap masa perkembangan. Faktor dalam yang mempengaruhi pada masa anak yaitu tingkat kecerdasan yang rendah. Faktor luar yang mempengaruhi pada masa anak yaitu sikap guru yang masa bodoh terhadapnya, selalu ditekan dan dipaksa, tumbuh dalam lingkungan yang penuh dengan kekerasan, dan menyaksikan kecurangan.
3. Konflik yang dialami tokoh anak (Duniya) dalam novel Dunia Duniya karya Dewi Sartika terdiri atas konflik internal dan konflik eksternal. Konflik internal yang dialami yaitu permasalahan tokoh anak dengan dirinya sendiri, terdiri atas kesedihan yang mendalam, rasa kesepian, dihantui rasa ketakutan terhadap sikap kasar orang tua, kecewa, kebingungan yang menyiksa. Konflik eksternal yang dialami yaitu konflik dengan guru, konflik dengan ayah, konflik dengan penjaga kantin, konflik dengan I’i, serta konflik dengan ibu.
B. Saran
Berdasarkan penelitian terhadap kepribadian dan sikap tokoh anak (Duniya) dalam menghadapi permasalahan hidup, faktor yang mempengaruhi kepribadian tokoh anak (Duniya) dalam novel Dunia Duniya ditinjau dari teori psikologi, serta Konflik yang dialami tokoh anak (Duniya) dalam novel Dunia Duniya karya Dewi Linggasari, maka saran-saran yang dapat penulis sampaikan adalah sebagai berikut.
1. Kecermatan dan latar belakang pengetahuan pembaca harus diperhatikan, agar setelah membaca sebuah novel, pembaca dapat mengambil manfaat berupa pengalaman hidup ataupun nasehat yang ada dalam novel.
2. Hendaknya orang tua membesarkan anak dengan penuh kasih sayang, memberikan contoh perilaku yang baik dan benar, serta memberikan anaknya pengarahan tentang sikap yang seharusnya dimiliki. Sosok orang tua dalam novel ini hendaknya menjadi pelajaran bagi pembaca.
3. Hendaknya seorang anak dapat memilih perilaku yang boleh ditiru. Anak seharusnya mencari seseorang yang dapat memberikan contoh, pelajaran, dan kasih sayang yang baik padanya. Sosok anak dalam novel ini hendaknya menjadi pelajaran bagi pembaca
4. Bagi para guru hendaknya novel dan hasil penelitian ini dapat dijadikan sebagai bahan pengajaran prosa, khususnya novel. Novel ataupun hasil penelitian ini dapat dijadikan sumber bacaan, contoh, ataupun sumber belajar dalam pengajaran prosa di SMP maupun SMA.



















Daftar Pustaka

Depdikbud. 2003. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka.
Endraswara, Suwardi. 2003. Metodologi Penelitian Sastra. Yogyakarta: FBS UNY
Koeswara. 1986. Teori-teori Kepribadian. Bandung: Eresco.
Nurgiyantoro, Burhan. 1992. Dasar-dasar Kajian Fiksi (Sebuah Teori Pendekatan Fiksi). Yogyakarta: Usaha Mahasiswa.

. 2005. Teori Pengkajian Fiksi. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.

Ratna, Nyoman Kutha. 2004. Teori, Metode, dan Teknik Penelitian Sastra. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Sabri, Alisuf. 1993. Pengantar Psikologi Umum dan Perkembangan. Jakarta: Pedoman Ilmu Jaya.

Sartika, Dewi. 2007. Dunia Duniya. Jakarta: PT Grasindo.

Sayuti, Suminto A. 2000. Berkenalan dengan Prosa Fiksi. Yogyakarta: Gama Media.
Semi, Atar. 1984. Kritik Sastra. Bandung: Angkasa.
. 1990. Metode Penelitian sastra. Bandung: Angkasa.
Siswantoro. 2005. Metode Penelitian Sastra: Analisis Psikologis. Surakarta: Muhammadiyah University Press

Soeryobroto, Soemadi. 1982. Psikologi Kepribadian. Yogyakarta: Sarasin.
Sugihastuti. 2002. Teori dan Apresiasi Sastra. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Sujanto, Agus. 1996. Psikologi Perkembangan. Jakarta: Rineka Cipta.
. 1997. Psikologi Kepribadian. Bandung: Bumi Aksara.
. 2001. Psikologi Kepribadian. Jakarta: Bumi Aksara.
Tarigan, Henry Guntur. 1995. Dasar-dasar Psikosastra. Bandung: Angkasa.
Walgito, Bimo. 1994. Pengantar Psikologi Umum. Yogyakarta: Andi Offset.
Wellek, R dan Warren. 1990. Teori Kesusastraan. Terjemahan Melani Budianta. Jakarta: Gramedia.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar